Wisatawan Urung Nginap

12

MOMEN hari besar seperti  Natal dan Tahun Baru (Nataru)  tentunya sangat ditunggu-tungu oleh para pengusaha hotel dan restoran  serta pada pedagang pakaian. Apalagi kalau bukan  jumlah  pengunjung yang  membludak yang bisa diprediksi akan membelanjakan uangnya. Inilah peristiwa rutinitas yang sangat diharapkan, sehingga bisa menutupi  pemasukan di  hari-hari yang sepi pengunjung atau pembeli.

Diketahui, musim libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, tingkat okupansi hotel di Kota Bandung disebut menurun bila dibandingkan dengan setahun lalu. Konon padatnya lalulintas Bandung belakangan ini  menjadi kambing hitam  yang dituding  sebagai salah satu penyebabnya.

Ada benarnya jika banyak yang menuding padatnya kendaran atau terjadi kemacetan yang berkepanjangan banyak  calon wisatawan yang  mengurungkan niatnya. Pertimbangannya bisa  jenuh dengan kepadatan di kota-kota besar. Kemudian ada maksud untuk berwisata ke Bandung juga tidak kalah macetnya. Bahkan, sempat  muncul pandangan bahwa Bandung menjadi  kota termacet.

Banyak  orang beranggapan  semakin macetnya Bandung membuat wisatawan enggan menghabiskan waktu lebih dari 3 hari di kota ini.  Sebenarnya jalanan dari Jakarta ke Bandung sudah baik, apalagi sekarang ada Tol Layang Jakarta-Cikampek. Tapi persoalannya ya situasi di Bandungnya sendiri, macet dan merepotkan.

PHRI Jabar menargetkan tingkat okupansi hotel di Bandung hingga mala tahun baru mendatang mencapai 80%. Hingga saat ini, angka rata-rata okupansi masih berada di 60%. Target  sebesar  80% itu,  sekarang masih di bawah rata-rata, paling sekitar 60%. Diharapkan malam weekend Sabtu-Minggu nanti diprediksi jadi puncaknya.

Ketua Perhimpunan  Hotel dan Restoran Indonesia  (PHRI) Jabar, Herman Muchtar  menyebutkan, tahun lalu angka okupansi bisa mencapai 10% lebih banyak dibanding saat ini. Selain kemacetan, dirinya menilai penurunan tersebut juga disebabkan oleh tingginya harga tiket pesawat.

Menurut Herman,  berkurangnya  sampai 10%-nya.  Ditambah harga tiket pesawat yang mahal sekarang juga berpengaruh. Dan pengaruh yang cukup besar juga disebabkan oleh pengalihan belasan rute penerbangan dari dan menuju Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Internasional Jawa Barat, Kertajati.

Hal tersebut dinilai menghilangkan hingga 2.000 potensi kedatangan wisatawan ke Kota Bandung.  Bandara pengaruhnya cukup besar. Pengalihan rute penerbangan itu menyebabkan potensi 2.000 winus (wisatawan nusantara) berkurang ke Bandung.

Agar kembali dapat menarik minat wisatawan untuk menghabiska libur panjang di Bandung, dirinya berharap masalah kemacetan dapat segera terurai. Meski infrastruktur menuju Bandung banyak dibangun, namun ketidaksiapan infrsatruktur jalan di dalam kota dinilai akan menghambat kenyamanan.

Persoalan sekarang Bandung-nya belum siap. Nanti Cisumdawu selesai, kereta cepat selesai, kalau di Bandung tidak segera dibangun jalan ya semakin lama orang semakin jenuh ke sini karena macet.

Boleh jadi mereka  sudah bersiap-siap untuk menginap dua atau tiga hari, namun karena tidak ingin terjebak kepadatan kendaraan, maka diputuskan mempersingkat kunjungannya. Inilah PR besar  kita bagaiamana dalam petkembangan berikutnya bahwa kepadatan  bisa diurai.

Walau saat ini sudah ada  upaya dengan membangun  playover  di tengah kota.***