WUB Lampaui Target

263

MEMASUKI tahun kelima pencetakan wirausaha baru (WUB) Jawa Barat jauh melampaui target. Menurut Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, hingga akhir tahun 2017, jumlah WUB mencapai 129.101 orang. Target yang dicanangkan Aher, sampai akhir tahun 2017 terpatok 100.000 orang. Pencetakan WUB sampai 100.000 orang itu dilakukan dengan cara pelatihan, pembinaan, dan pendampingan terhadap pelaku usaha generasi muda dan pelaku UMKM.

Gubernur Jabar yakin, program peningkatan UMKM itu, selain mendorong tumbuh dan berkembangnya UMKM, diharapkan kualitasnya juga terus meningkat. Untuk mengukur kualitas UMKM, khususnya para pelaku usaha baru, setiap tahun digelar pameran dan penjualan hasil usaha para WUB. Diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Jawa Barat bekerja sama dengan kelompok penggiat WUB, perguruan tinggi, dan media massa.

Peningkatan jumlah WUB dan keberadaan UMKM di Indonesia sampai sekarang masih tertinggal dari negara lain. Rasio wira usaha terhadap jumlah penduduk, Indonesia baru mencapai 3,1%, Malaysia 5%, Singapura 7%, Tiongkok 10%, Jepang 11%, dan Amerika Serikat 12%. Kementrerian Koperasi dan UKM mencatat, saat ini Indonesia memiliki 59.267.759 unit usaha mikro, 681.522 usaha kecil, 59.263 usaha menengah, dan 4.987 usaha besar.

Menurut Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Jabar, Iwan Gunawan, lebih dari separuh pelaku usaha mikro memiliki kinerja yang belum stabil dan rentan gulung tikar. Usaha yang masih rentan umumnya berskala mikro dan berusia di bawah lima tahun (PR29/1).

Kelemahan usaha mikro hampir di semua lini, meliputi mental usaha, kemampuan teknias, jejaring, serta fiansial. ”Mereka memerlukan ekosistem usaha yang mendukung,” kata Iwan. Karena itu program pelatihan dan pendampingan sangat diperlukan. Seperti dikemukakan Kepala Dinas Koperasi dan KUK Jabar, Dudi Sudrajat, program itu harus meliputi pembukaan akses seluas-luasnya bagi UMKM. Membantu mereka yang belum memahami teknologi informasi dalam upaya pemasaran daring.

Baca Juga :   Ada Apa dengan Stok Beras?

Program pelatihan, pembiaan,  dan pendampingan, menurut Gubernur Jabar, menjadi salah satu fokus Pemprov Jabar. Salah satunya diimplementasikan dalam program  pencetakan WUB.

Pelatihan itu meliputi peningkatan keterampilan pemasaran, termasuk pengemasan, pemilihan saluran pemasaran, sistem keuangan, manajerial, dan sebagainya. Diharapkan hasil pelatihan terpadu itu UMKM dapat naik kelas dari usaha mikro ke usaha kecil, kemudian menengah, dan makin besar.

Jumlah WUB yang semakin banyak menimbulkan persaingan yang semakin ketat. Namun persaingan yang sehat justru dapat mendorong perkembangan usaha. Persaingan dalam dunia usaha justru diperlukan.

Tanpa persaingan, para pelaku usaha justru akan stagnan. Pada sisi lain, persaingan justru meningkatkan kreativitas dalam berusaha. Para pelaku usaha akan terus mencari terobosan pasar, menciptakan barang dan jasa yang makin menarik minat pasar.

Bermunculannya pencipta star-up, aneka games baru, aksesoris, fesyen, arsitektur, film, program televisi, aneka kuliner, dan industri kreatif lainnya, menjadi pendorong makin meningkatnya wirausaha di Indonesia. Artinya semangat berwirausaha masyarakat sangat tinggi, pemerinah tinggal melakukan bimbingan, membuka peluang pasar, baik domestik maupun global, dan menyediakan fasilitas berupa lahan dan permodalan.

Kementerian Luar Negeri kini tengah melakukan penjajagan hubungan lebih erat antara Indonesia dan semua negara di Benua Afrika. Bila hal itu sudah terwujud, diharapkan pemerintah segera melakukan hubungan bilateral dengan menyertakan para pengusaha, termasuk UMKM.

Sebagian rakyat Afrika sudah punya apresiasi tinggi terhadap Indonesia, khususnya Jawa Barat. Rakyat Afrika-lah yang memberi geklar Bandung sebagai Ibu Kota Asia Afrika. Mereka sangat mengapresiasi ide dan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Banyak pula rakyat Afrika yang pernah belajar pertanian di Jawa Barat. Mereka mengembangkan hasil pendidikannya dengan membuka lahan pertanian di negaranya. Mereka pasti ingat dan tahu tentang petani Jabar. Warga Afrika Selatan sangat menyukai tekstil Indonedia, khususnya batik. Bapak Afrika Selatan, Mandela selalu mengenakan kemeja batik Indonesia, ke manapun tokoh legendaris itu pergi.

Baca Juga :   Didesak Perumahan Sungai Semakin Sempit

Hal itu merupakan peluang pasar bagi ekspor Indonesia, khususnya Jabar ke Benua Huitam tersebut. ***