Legenda Coban Rondo, Janda Bersembunyi Dibalik Air Terjun

109

Provinsi Jawa Timur memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata,terutama wisata alam.Salah satu objek wisata alam favorit para pelancong terdapat di wilayah Kabupaten Malang yang topografinya cukup unik. Rangkaian pegunungan yang mengitari kawasan ini menciptakan keindahan alam yang tiada tara.

Perjalanan Mandalawangi kali ini menuju kawasan objek wisata alam Coban Rondo,secara administratif terletak 12 Km dari Kota Batu, tepatnya berada di Desa Pandansari, Kecamatan Pujong, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jalan menuju objek wisata air terjun Coban Rondo bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Akses menuju lokasi  sudah sangat baik.

Jika perjalanan menggunakan kendaraan pribadi  dari jalan raya arah Batu – Pujon, Malang, setelah melalui tanjakan yang landai dan jalan berkelok-kelok dan terkadang tajam,  Anda akan sampai di puncak perbukitan. Sebuah papan nama dengan ukuran besar akan memberikan petunjuk untuk belok ke arah kiri keluar dari jalan raya guna menemukan obyek wisata air terjun Coban Rondo.

Namun bila menggunakan angkutan umum, gunakan  bus jurusan Malang dari Surabaya.  Lalu naik angkutan umum dari Terminal Arjosari Malang jurusan Landungsari.  Sesampai di Ladungsari , lanjutkan dengan bus tujuan Kediri via Pujon, turun di Patung Sapi yang merupakan pintu gerbang ke Coban Rondo . Dari sini, tersedia ojek yang siap mengantar hingga ke lokasi.

Coban Rondo  memiliki ketinggian sekitar 84 meter , berada pada ketinggian 1.135 meter dari permukaan laut.  Airnya berasal  dareah Cemoro Dudo, lereng Gunung Kawi dengan debit 150 liter/detik pada musim hujan dan 90 liter/detik pada musim kemarau.Air Terjun Coban Rondo menyimpan legenda unik, konon bermula dari sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi, sedangkan mempelai pria bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro.

Setelah usia pernikahan mereka menginjak usia 36 hari atau disebut dengan Selapan (bahasa jawa). Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro , kampung asal  suami. Namun orang tua Anjarwati melarang kedua mempelai pergi , karena usia pernikahan mereka baru berusia 36 hari atau disebut selapan. Namun kedua mempelai  bersikeras pergi dengan resiko apapun yang terjadi di perjalanan.

Ketika di tengah perjalanan keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono, yang tidak jelas asal-usulnya. Nampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati, dan berusaha merebutnya. Akibatnya perkelahian antara Joko Lelono dengan Raden Baron Kusumo tidak terhindarkan. Kepada para pembantunya atau disebut juga puno kawan yang menyertai kedua mempelai tersebut, Raden Baron Kusumo berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang terdapat di Coban atau air terjun.

Perkelahian antara Raden Baron Kusumo dengan Joko Lelono , konon berlangsung seru dan mereka berdua gugur. Akibatnya Dewi Anjarwati menjadi seorang janda yang dalam bahasa jawa disebut Rondo.  Sejak saat itulah Coban atau air terjun tempat bersembunyi Dewi Anjarwati dikenal dengan Coban Rondo.  Konon di bawah air terjun terdapat gua tempat tinggal tempat persembunyian Dewi Anjarwati dan batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri yang merenungi nasibnya. (E-001) ***