Sayur pun Semakin Tawar

115

KRISIS  cengek yang terjadi tahun lalu, tidak berdampak terlalu luas di masyarakat. Tidak semua orang suka makan makanan pedas. Bagi golongan masyarakat ini, harga cengek berapa pun tidak menjadi masalah. Cengek bukan merupakan komioditas yang berada pada lingkup kebutuhan pokok. Namun ketika garam langka di pasar dan harganya melonjak, semua orang menjadi gelisah.  Bukan hanya konsumen umum, industri juga benar-benar terkena dampak langkanya pasokan garam. Kaum ibu terkaget-kaget ketika membeli garam, harganya naik cukup tinggi. Harga garam kemasan 200 gram biasanya dijual Rp 1.500 pertengahan minggu ini menjadi Rp 3.500. Persediaan di warung atau pasar semakin menipis.

Kebutuhan garam di Indonesia saat ini mencapai 4,3 juta ton pertahun. Jumlah itu termasuk kebutuhan konsumsi yang berkisar pada angka 780.000 ton pertahun. Sedangkan total panen garam tahun 2016 hanya mencapai 143.000 ton atau 8% dari kebutuhan. Akibatnya, pasokan garam ke pasar sangat sedikit termasuk pasokan garam industri. Tidak heran apabila industri rumahan, terutama kuliner mulai mengurangkan garam pada masakannya. Apabila tidak segera ditangguilangi, kekurangan garam itu akan berakibat panjang. Mungkin saja rasa sayur pun semakin tawar.

Industri, terutama produksi ikan asin, pindang, aneka macam kue, roti, bahkan industri besar seperti tekstil, tahun ini mengalami penurunan produksi atau penurunan kualitas. Pengolahan ikan teri, misalnya, ada beberapa perusahaan yang terpaksa mengurangi penyertaan garam pada produknya. Akibanya, pasokann teri ke pasar lebih banyak teri tawar daripada teri asin. Teri tawar akan cepat mengalami penurunan kualitas, kalau tidak cepat busuk, dalam waktu relatif cepat, akan terjadi perubahan warna.

Ternyata pengurangan pasokan garam itu terjadi sejak hulu. Para petani garam banyak yang tidak berproduksi. Tahun 2016 terjadi gagal panen garam hampir di semua pertanian garam di Indonesia. Anomali cuaca menjadi biang keladinya. Sampai saat ini, sebagian besar petani garam di Indonesia, khususnya di sentra-sentra produksi garam, sepertri di Cirebon dan Indramayu, masih sangat bergantung pada alam atau cuaca. Garam hanya dapat diproduksi ketika musim kemarau yang cukup panas dan panjang.

Sedangkan dua tahun terakhir ini cuaca tidak menentu, pada musim kemarau masih turun hujan cukup deras. Musim kemarau basah merupakan cuaca yang sangat tidak menguntungkan  bagi para petani garam. Sudah hampir dua tahun ini—selama cuaca tidak menentu—sebagian besar petani garam berhenti berproduksi. Lahan pertanian garam di Jabar yang luasnya sekira 6.000 –7.000 hektar nyaris benar-benar garung.