Terampas, Hak Dasar Anak

99

NABI Muhammad mengatakan pada salah satu hadisnya, orangtua tidak boleh meninggalkan tiga hal, antara lain,  anak-anak atau generasi yang lemah.  Hal itu disampaikan Nabi Muhammad 15 abad yang lalu. Selasa kemarin, 1.500 tahun kemudian, Deputi Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Lauren Rumble, mengatakan, ”Kerugian ekonomi yang sangat besar dapat ditimbulkan dari mengabaikan potensi seorang anak untuk dapat tumbuh sehat, bahagia, dan dengan pendidikan yang memadai.”  Ternyata ada relevansi atau benang merah yang terentang dari zaman Nabi Muhammad sampai hari ini yang berkaitan dengan anak-anak.

Generasi atau anak-anak yang lemah, seperti pendapat Nabi Muhammad, pada dasarnya merupakan akibat ketidakmampuan orangtua dalam membentuk anak-anaknya menjadi manusia yang kuat serta bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Generasi baru yuang lemah itu menurut sunnah Nabi ialah generasi yang lemah fisik, lemah pendidikan, terutama lemah pengetahuan agamanya. Menurut kacamata manusia modern sekarang, generasi lemah itu ialah generasi yang mengalami kekurangan gizi, tidak mendapat pendidikan yang memadai, tidak mendapat tuntunan dalam keimanan, ketakwaan, dan ilmu keagamaan serta ilmu pengetahuan.

Nabi ingin menekankan, generasi lemah yang ditinggalkan para orangtua, berakibat fatal bagi kehidupan dan kemajuan bangsa atau umat. Olehkarena itu orangtua wajib memberi makanan yang baik terhadap anak-anaknya, memberi pendidikan yang luas, dan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada anak-anaknya.  Nabi pernah menyatakan, ajaklah anak-anak kecil salat di mesjid, bangunkanlah anak-anak saat salat subuh. Apabila anak-anak itu sudah balig (akil-balig), ketika disuruh salat, ia tidak mau, orangtuanya berhak memukulnya dengan penuh kasih sayang. Hal itu ditekankan Nabi Muhammad agar anak-anak kelak menjadi generasi pengganti orang tua  yang benar-benar kuat, memiliki iman dan takwa yang mumpuni.