Batik Tulis Giriloyo, Sebuah Karya Warisan Abdi Dalem

81

Kekayaan alam serta tradisi budaya Jogjakarta menjadi magnet para pelancong dari luar daerah. Potensi inilah yang mempopulerkan Jogjakarta menjadi salah satu ikon wisata Indonesia selain Bali. Kekayaan budaya menjadi salah satunya . Angka kunjungan pelancong ke Keraton Jogjakarta dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Kekayaan budaya Jogjakarta bukan hanya keraton saja,ada satu lagi kekayaan budaya yang merupakan mahakarya, yaitu batik tulis.Perjalanan Mandalawangi kali ini mengunjungi sebuah kawasan yakni Giriloyo, sebuah dusun di wilayah Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta yang terletak kurang lebih 17 km arah selatan Kota Jogjakarta.

Keberadaan batik tulis Giriloyo , konon berawal dari pembangunan makam raja – raja di Imogiri pada tahun 1654 yang digagas oleh Sultan Agung. Waktu itu Sultan menemukan tanah yang cocok untuk makam. Namun kenyataannya kompleks untuk makam ini ditempati oleh pamannya, yaitu Panembahan Junimah.Untuk mengobati kekecewaan , Sultan Agung mengalihkan pembangunan makam ke Bukit Merak yang berada di Dusun Pajimatan wilayah Girirejo11.

Di lokasi ini banyak abdi dalem yang memelihara dan menjaga makam sebelum ditempati, dipimpin oleh seorang yang berpangkat bupati. Dalam perkembangannya , banyak abdi dalem menjadi perajin batik atau membatik di lokasi itu. Seiring perjalanan waktu keterampilan itu diwariskan secara turun temurun hingga sekarang.

Kain batik-tulis bukanlah hanya sekedar kain, tapi telah menjadi bentuk seni yang diangkat dari hasil cipta, rasa dan karsa pembuatnya. Motif-motif atau ragam hiasnya dipengaruhi oleh faktor: letak geografis, kepercayaan dan adat istiadat, keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna serta kontak atau hubungan antardaerah penghasil batik , ditambah sifat dan tata penghidupan di daerah yang bersangkutan.

Dalam Katalog Batik Khas Jogjakarta terbitan Proyek Pengembangan Industri Kecil dan Menengah ,Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (1996), bahwa di Daerah Istimewa Jogjakarta sedikitnya memiliki 400 motif batik, baik motif klasik maupun modern.

Beberapa nama ragam hias atau motif batik Jog- jakarta antara lain: parang, banji, tumbuh-tumbuhan menjalar, tumbuh-tumbuhan air, bunga, satwa, sido asih, keong renteng, sido mukti, sido luhur, semen mentul, sapit urang, harjuna manah, semen kuncoro, sekar asem, lung kangkung, sekar keben, sekar polo, grageh waluh, wahyu tumurun, naga gini, sekar manggis, truntum, tambal, grompol, ratu ratih, semen roma, mdau broto, semen gedhang, jalu mampang, dan lainnya.

Masing-masing motif batik memiliki nilai filosofis dan makna sendiri. Filosofis corak batik yang dibuat di Giriloyo antara lain: Sido Asih yang mengandung makna si pemakai apabila hidup berumah tangga selalu penuh dengan kasih sayang.

Sido mukti mengandung makna, apabila dipakai pe­ngantin, hidupnya akan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan. Sido mulyo mengandung makna si pemakai hidupnya akan selalu mulia. Sido luhur me­ngandung makna si pemakai akan menjadi orang berpangkat yang berbudi pekerti baik dan luhur.

Truntum mengandung makna cinta yang bersemi. Grompol, artinya kumpul atau bersatu, mengandung makna agar segala sesuatu yang baik bisa terkumpul seperti rejeki, kebahagiaan, keturunan, hidup kekeluargaan yang rukun. Tambal mengandung makna menambah segala sesuatu yang kurang.

Apabila kain dengan motif tambal digunakan untuk menyelimuti orang yang sakit akan sembuh atau sehat kembali sebab menurut anggapan pada orang sakit itu pasti ada sesuatu yang kurang .

Ratu ratih dan semen roma melambangkan kesetiaan seorang isteri. Madu bronto melambangkan asmara yang manis bagaikan madu. Semen gendhang mengandung makna harapan agar pengantin yang mengenakan kain tersebut lekas mendapat momo­ngan.

Motif-motif tersebut dari dahulu sampai sekarang diwariskan secara turun-temurun, sehingga polanya tidak berubah, karena cara memola motif itu hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, dan tidak setiap pembatik dapat membuat motif sendiri. Orang yang membatik tinggal melaksanakan pola yang telah ditentukan. Jadi, kerajinan batik tulis merupakan suatu pekerjaan yang sifatnya kolektif.

Sebagai catatan, para pembatik di Giriloyo khususnya dan Yogyakarta umumnya, dilakukan oleh kaum perempuan baik tua maupun muda. Keahlian membatik tersebut pada umumnya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke ge­nerasi .

Tahapan pembuatan batik-tulis Giriloyo : Sebelum kain mori dibatik, biasanya terlebih dahulu dilemaskan. Caranya dengan digemplong, kain mori digulung kemudian diletakkan di tempat yang datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu.

Setelah kain menjadi lemas, tahap berikutnya adalah mola, yaitu membuat pola pada mori dengan menggunakan malam. Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah nglowong, yakni menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola.

Kegiatan ini disebut nembusi. Setelah itu, nembok yang prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi menggunakan malam yang lebih kuat. Maksudnya untuk menahan rembesan zat warna biru atau coklat.

Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna biru supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna biru menjadi lebih pekat.

Selanjutnya, ngerok yakni menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya. Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi.

Dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat.

Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja.

Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah mbabar atau nglorot, yakni membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-angin supaya kering.

Sebagai catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.Untuk pewarnaan alami, digunakan kulit kayu mahoni, daun indigo atau jolawe .

Hampir semua jenis daun bisa digunakan untuk pewarnaan. Prosesnya memang cukup lama karena biasanya pencelupan pada warna alam dilakukan hingga 35 kali, setelah itu harus ada penguncian warna dengan bahan- bahan tertentu, diantaranya gula jawa. (E-001/bbs) ***