Betulkah Nama Membawa Bisnis Sukses?

79
Brand start up: Businessman building brand-word.

SETIAP orangtua saat memberikan nama kepada buah hati saat lahir selalu mengandung doa untuk anaknya kelak. Karena itu, sebagian besar orangtua bahkan sudah memersiapkan nama anak mereka sejak di dalam kandungan.

Di zaman modern ini, tidak sedikit juga orangtua memberikan nama anak-anaknya yang mengandung unsur Islam, bahasa Yunani ataupun bahasa Jawa. Karena mengandung doa, nama seseorang bisa menentukan nasibnya. Nasib seseorang bisa bagus atau jelek ternyata juga bisa dipengaruhi oleh nama. Percaya atau tidak?

Psikolog dan Ahli Restrukturisasi Nama, Ni Kadek Hellen Kristy, mengatakan jangan main-main saat memberikan nama kepada anak. “Nama seseorang adalah sesuatu yang sangat penting dan enggak bisa diabaikan. Jangan menganggap apalah arti sebuah nama, atau menyepelekannya,” kata perempuan cantik ini.

Heleni, begitu dia akrab disapa, tertarik mendalami ilmu analisis dan restrukturisasi karena nama bukan sekadar kata tetapi bisa menentukan nasib dan hoki seseorang.

Dia menggunakan metode transpersonal psikologi dalam membaca nama seseorang. “Jadi setiap agama pun selalu mengajarkan nama adalah doa. Jadi namailah dia dengan baik. Dengan transpersonal psikologi, saya bisa mengatahui nama tersebut berdampak negatif atau positif bagi jalan hidupnya,” papar Heleni.

Menurutnya, kesuksesan seseorang tentu ditentukan oleh keuletan, kerja keras, dan kesempatan. Namun itu semua tak akan bisa dicapai dengan mulus, jika nama yang disandangnya tidak mendukung jalan hidupnya.

“Nama bisa memperbaiki rezeki. Nama seseorang bisa berdampak positif bagi dirinya maupun orang lain di sekitarnya. Namun jika asal memberi nama bisa juga membawa hal yang negatif. Seseorang sudah kerja keras, sukses, tapi bisa jatuh lagi atau banyak musuh itu karena namanya tak cocok,” ungkap Heleni.

Ilmu transpersonal psikologi, kata dia, merupakan ilmu yang memelajari segala hal yang berbentuk spiritualisme, seperti prediksi masa depan dan kekuatan kata. Tentu hal itu bisa mengulik makna di balik nama seseorang.

Cerita Heleni berawal dari kisahnya ketika ibunda Heleni yang merupakan orang Bali, mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Maka ibunya pun memutuskan untuk mengubah namanya menjadi lebih singkat.

“Ibu saya saat itu terselamatkan dari kematian. Ketertarikan saya sejak saat itu, dan saya memang senang memelajari holistic healing, penyembuhan dengan jalan spiritual,” katanya.

Heleni pun membuka sebuah padepokan untuk mengajak orang-orang bermeditasi dan menenangkan pikiran di tahun 1999. Tak lama, dia memutuskan untuk memelajari ilmu hypnotheraphy dan NLP (Neuro-Linguistic Programming) sampai keluar negeri.

“Tetap terasa ada yang kurang. Ketika sudah melakukan hypnotheraphy, sudah berbagai macam teknik yang saya pelajari untuk membantu orang, kok kayaknya belum maksimal. Akhirnya saya memelajari membaca nama. Ternyata nama itu kuat sekali karena melekat kuat di diri kita dari lahir,” jelas Heleni.

Cara membacanya, Heleni menggunakan rumus kode angka yang dia miliki. Dia mencontohkan, orang-orang yang mengalami masalah dalam hubungan pernikahan dan berujung ke perceraian, selalu memiliki kode angka yang sama.

“Aku menghitung dari rumus, dari angka kode-kode itu bisa dirumuskan, saya membuat pola data dan fakta,” tandasnya.  (C-003/ren)***