Evelinda Budi Susana, Berhenti Beralasan, Berbuatlah !

235

Kelahiran kota “Kembang” Bandung, 24 Mei 1971, Evelinda Budi Susana adalah anak  dari keluarga John Martin Adoeng Kilapong, dan ia menekuni usaha kuliner.

Istri dari Julianto DC ini, awal mulanya terinspirasi membuat kue, setelah Evelinda membaca cara membuat salah satu jenis kue di sebuah majalah nasional.

Membuat kue yang kini menjadi bidang usahanya, ia rintis sejak tahun 1999 . Seiring dengan perjalanan dan perkembangan usahanya, kini ia sudah mempekerjakan tiga orang tenaga kerja. “Kemampuan membuat kue, selain dari pengetahuan yang diberikan oleh sang adik, juga dari mengikuti kursus-kursus serta melihat resep-resep yang terdapat di majalah,” tutur Evelinda.

Kue kering buatannya, kini sudah mendapatkan sertifikat Halal dan Ijin Produksi, serta Uji Mutu Produk, dengan nomor registrasi LP-POM 01201161250316, dan Dinkes P-IRT 2063273013045-21.

Produk kuenya dijual pada kisaran harga Rp 35.000 – Rp 60.000.  Segmen pasarnya meliputi segala usia yang menyukai kuliner berbahan tradisional dengan proses olahan kekinian.

“Kue ini berbahan baku tape singkong, yang memiliki rasa unik dan khas, serta mampu bertahan selama 7 hari. Dipasarkan di outlet tempat wisata, toko oleh-oleh, cafe dan KPBSU Lembang Bandung,” demikian Evelinda menjelaskan tentang kue yang diproduksinya.

Selama kurang lebih 17 tahun menggeluti usaha kue kering dan 3 tahun untuk usaha kue basah, Evelinda mengaku sudah melanglangbuana ke beberapa negara. Ia juga mendapat kesempatan untuk turut berpartisipasi  dalam event Malaysia International Halal Showcase (MIHAS), dan KLCC Twin Tower Kuala Lumpur – Malaysia.

Evelinda juga mengemukakan bahwa, persaingan dunia usaha terutama industri kuliner sangatlah ketat, terutama di Bandung, karena Bandung merupakan salah satu kiblat kuliner Nusantara. Untuk meningkatkan kualitas diri, kemampuan dan kualitas profesi, Evelinda mengikuti pelatihan dan berani mencoba inovasi baru.

“Yang paling berjasa dalam menopang kelancaran usaha saya adalah keluarga, yang mana mereka turut mendukung, baik dari soal ide maupun tenaga,” ungkapnya kepada BB.

Selain itu menurut Evelinda, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuh kembangnya industri kuliner, yakni selera pembeli, geografis dan faktor kreativitas. Oleh karena itu, ditengah persaingan usaha, kita harus tetap fokus pada produk, dan selalu kreatif dalam menciptakan diversifikasi maupun diferensi.

“Harapan kepada pemerintah maupun pihak swasta adalah, agar tetap membantu UMKM, baik dari sisi keahlian, training, serta pemberian bantuan alat produksi dengan kemasan, termasuk permodalan,” ungkap Evelinda kepada BB.    (E-018)***