Jembatan Legendaris Cirahong, Dibangun Belanda Berkat Lobi R.A.A. Kusumadiningrat

120

Penjajahan kolonial Belanda di nusantara merupakan di antara episode terkelam dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pendudukan bangsa asing yang mengeruk kekayaan bumi pertiwi ini mampu meninggalkan jejak kengerian luar biasa bagi bangsa,bahkan hingga saat ini.Di balik jejak kelam kolonial , ada beberapa aspek yang mewariskan manfaat bagi bangsa kita, antara lain ilmu pengetahuan dan peningggalan berupa infrastruktur yang mereka bangun.Salah satu peninggalan bangsa kolonial Belanda yang masih bermanfaat sampai saat ini ialah alat transportasi kereta api.Sistem transportasi ini dibangun oleh Belanda pada abad ke 19, sebagai sarana distribusi kekayaan alam serta mobilitas penduduk saat itu.

Di Pulau Jawa sistem transportasi kereta api yang dipakai saat ini sebagian besar merupakan warisan Belanda.De­ngan topografi alam yang sangat luar biasa dibutuhkan pengetahun tinggi agar sistem transportasi ini berjalan sebagaimana mestinya.Salah satu mahakarya bangsa Belanda dalam sistem transportasi kereta api, ialah sistem jembatan yang menghubungkan dua daerah dengan kontur alam cukup ekstrem.Sebagai contoh sistem jembatan yang menghubungkan dua daerah akibat terbelah oleh bukit atau sungai .Bangsa Belanda membangun jembatan yang bisa dilalui oleh kereta api berbobot ratusan ton, jembatan tersebut masih dilalui hingga saat ini.

Salah satunya,jembatan yang terletak di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis yang dikenal dengan nama jembatan Cirahong. Dibangun pada tahun 1893, dengan panjang keseluruhan 202 meter,letaknya tidak jauh dari stasiun Manonjaya.Jembatan Cirahong memiliki dua fungsi,pada bagian atas digunakan sebagai jembatan kereta api,sedangkan pada bagian bawah digunakan untuk roda dua dan empat. Walau untuk kendaraan roda dua dan empat yang melintas di jembatan ini harus bergantian , karena lebar jembatan tidak memadai. Konstruksi jembatan sempat diperkokoh pada tahun 1934 oleh pemerintah kolonial. Hingga saat ini jembatan masih cukup kokoh dan jadi jalur lintasan kereta api yang menuju Jawa Tengah dan Timur maupun sebaliknya menuju wilayah Jabar.

Pembangunan jembatan Cirahong, konon tak terlepas dari peran R.A.A. Kusumadiningrat atau Kangjeng Prabu, Bupati Galuh Ciamis pada tahun 1839 – 1886. Saat itu Pemerintah Belanda sedang membangun jalan kereta api trayek selatan yang melintasi Bandung, Garut, Tasik dan Banjar kemudian nyambung ke Jateng. Pembangunan jalur kereta api tersebut, selain untuk angkutan penumpang, juga buat me­ngangkut hasil bumi dari Priangan, seperti kapas, kopi, kapol dan lainnya ke Jakarta. Waktu itu lahan perkebunan baru dibuka di daerah Galuh, seperti perkebunan Lemah Neundeut , Bangkelung dan lainnya. Angkutan kereta untuk menopang angkutan barang dan mobilisasi masyarakat.

Awalnya jembatan Cirahong ini tidak direncanakan untuk dibangun. Dari gambar konsep yang dibuat pemerintah kolonial Belanda, lintasan kereta api dari Tasik tidak melalui Kota Ciamis , tapi ke Cimaragas sebelah selatan Su­ngai Citanduy , kemudian masuk Kota Banjar. Dari Banjar , jalur lintasan KA terbagi jadi dua , yang menuju ke Pa­ngandaran dan ke Cilacap Jawa Te­ngah. Pertimbangannya, jika melintasi Kota Ciamis , pemerintah Belanda harus membangun dua jembatan Sungai Citanduy yang bakal memakan budget cukup besar.

Kabar tersebut terdengar Kangjeng Prabu, yang diwaktu itu telah pensiun dari jabatan Bupati. Kangjeng Prabu yang tetap mempunyai pengaruh ke pemerintah kolonial, melobi Belanda supaya jalur lintasan rel kereta yang dib­ngun tersebut melewati Kota Ciamis.Ada sekian banyak pertimba­ngan yang diungkapkan Kangjeng Prabu. Jumlah warga Kota Ciamis lebih banyak dibanding Cimaragas, jadi keberadaan kereta dapat lebih berguna untuk warga. Tidak Hanya itu, adanya stasiun kereta api dapat memperkuat eksistensi Ciamis sebagai Ibu Kota Galuh. Lewat lobi panjang, akhirnya pemerintah kolonial menyetujui usulan Kangjeng Prabu. Belanda membangun dua jembatan di atas Sungai Citanduy , yakni jembatan Cirahong dan jembatan Karangpucung dekat Kota Banjar . (E-001) ***