Kemiskinan dan Konsumerisme

119

DIBANDINGKAN dengan  keadaan bulan September 2016, awal tahun 2017 angka kemiskinan (AK) di Jabar menigkat.  Pada bulan Maret 2017 tercatat angka kemiskinan Jabar 4.168.440 jiwa. Sedangkan pada bulan  September 2016 tercatat 4.168.110 jiwa.  Secara nasional, penurunan AK akhir-akhir ini terus melambat, bahkan pada Maret 2017 terjadi penambahan penduduk miskin.

BPS Pusat mencatat, penduduk miskin Indonesia awal 2017 ada 27,77 juta orang, naik 6.900 orang dibanding September 2016. Di Jatim, justru terjadi penurunan AKdari 4,638 juita jiwa  pada September 2016 menjadi 4,617 juta jiwa pada Maret 2017. Kenaikan 6.900 jiwa secara nasional itu menandakan, upaya pemerintah menurunkan AK tahun ini belum berhasil.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)  Jabar, garis kemiskinan (GK) Jabar pada Maret 2017 setara dengan nilai uang Rp 345.427,00 perkapita perbulan. Ada kenaikan 3,71 persen dibandingkan standar September 2016 senilai Rp 332.119,00. Dalam konferensi pers di Bandung, Kepala BPS Jabar, Dody Harlando,  menyebutkan, terjadi pola penggunaan uang masyarkat miskin yang hampir sama di semua daerah di Indonesia. Di Jabar, belanja masyarakat miskin didominasi makanan, terutama beras,  23,20% di perkotaan dan 28,15% di perdesaan.

Kita memahami benar, pola konsumsi  yang didominasi makanan itu. Bagaimana pun beras masih merupakan konsumsi pokok. Rakyat miskin rela menjual harta benda yang mereka miliki untuk membeli beras. Artinya bantuan pemerintah berupa beras masih sangat diperlukan. Apabila mereka tidak harus mengeluarkan sebagian bersar uangnya untuk membeli beras, dampaknya akan sangat signifikan terhadap laju inflasi. Bantuan itu juga akan mengubah pola makan rakyat miskin. Mereka akan mampu membeli lauk pauk, terutama ikan,  sebagai upaya meningkatkan gizi masyarakat.