Sastrawan Blusukan

107

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dinilai sebagian anggota masyarakat, sebagai menteri yang bertindak kontroversial. Niatnya, menerapkan sistem full day school mengundang sikap pro kontra. Bahkan Wakil Presiden, Jusuf Kalla berkomentar. Penerapan sistem belajar sehari penuh di Indonesia masih butuh waktu. Artinya Indonesia belum siap melaksankana sistem baru yang sebenarnya tidak baru itu.

Karena pendidikan di Indonesia lebih banyak yang menganut sistem konvensional sistem full day school mendapat tentangan yang sangat kuat. Bapak Menteri tidak ingin memaksakan kehendaknya. FDS tinggal wacana. Sekarang  Muhadjir Effendy tengah menggebrak para sastrawan agar ikut bergerak. Selama ini, kesusatraan seolah-olah merupakan barang ”aneh” bagi para remaja Indonesia. Sejak lama para penerbit buku sastra bangkrut. Tidak ada orang Indonesia yang mau membeli buku hasil karya para sastrawan. Kalaupun masih ada novel yang terbit, masih harus diuji, sampai di mana pengaruh positifnya terhadap pembangunan  karakter bangsa ini. Nilai sastra bukan hanya pada wujud tulisan, kebahasaan, struktur, pengolahan isi, tetapi juga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Di Indonesia kesusatraan pernah berjaya dalam rentang waktu cukup panjang. Hampir semua kerajaan di nusantara mengenal sastra, sejarah, dan filsafat, melalui tulisan di atas daun lontar. Berbagai kerajaan menghasilkan kitab-kitab yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan. Rakyat, bukan saja yang berada di lingkungan kerajaan itu saja, mengenal Mahabrata, Bhagawat Gita, Negara Kertagama, Carita Parahiyangan, Kidung Sunda, dan sebagainya. Kitab-kitab itu ditulis oleh para pujangga zaman itu. Kitab itu abadi hingga sekarang menjadi bahan kajian, baik nilai sastranya, filsafatnya, dan nilai sejarahnya.

Kesusastraan di Indonesia terus berkembang. Kita mengenal pujangga besar, sejak Raja Ali Haji, hingga angkatan paling mutahir. Orang Indonesia sampai awal abad 20, banyak yang suka membaca. Meskipun saat itu tidak ada gerakan literasi, perpustakaan merupakan sarana paling ampuh dalam membentuk karakter bangsa. Banyak buku bernilai sastra yang beredar, dibeli dan dibaca masyarakat melalui bibiolotek keliling.