Perajin Boboko Tetap Tegar, Menekuni Usaha Turunan Leluhurnya

290

Boboko (tempat nasi ) yang terbuat dari anyaman bambu, saat ini tampaknya sudah jarang dipergunakan kalangan ibu rumah tangga sebagai tempat nasi yang siap dihidangkan di atas meja makan.

Ibu rumah tangga sekarang umumnya , lebih banyak menggunakan alat menanak nasi eletronik dan tetap menyimpannya pada alat tersebut , agar nasi tetap hangat. Tempat menyimpan nasi dari anyaman bambu, seiring perjalananan waktu hanya bisa kita jumpai pada sajian makanan di rumah makan tradisional (Sunda-red) , walau di daerah perdesaan masih ada yang menggunakannya.

Meski tergeser oleh peralatan modern , sedikitnya seratus kepala keluarga (KK) warga Desa Genteng, Dusun Awilega , Kabupaten Sumedang, sejauh ini masih menekuni mata pencaharian sebagai perajin boboko dan lainnya yang berbahan baku bambu .
Usaha yang ditekuninya ini, merupakan warisan leluhurnya yang secara turun temurun dilakukan warga setempat sejak puluhan tahun silam.

Semua warga desa setempat , mulai anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua, dipastikan bisa membuat boboko , nyiru (ampan), hihid (kipas), bilik (tirai, ayakan (saringan), dingkul (tempat menyimpan perkakas), rarancang (kerangka layang-layang), tusuk sate dan segala macam perkakas rumah tangga berbahan dasar bambu.

Ma Entin , perajin warga Dusun Awilega, RT 11/RW 19, Desa Genteng, Kec. Sukasari mengatakan, keahlian warga dalam menga- nyam bambu membuat berbagai perkakas rumah tangga dipelajarinya sejak mereka masih usia dini. Warga disini , sepulang dari sawah atau kebun berlanjut dengan kesibukan membuat boboko,hihid,nyiru dan lainnya.

“Tos ti alit keneh ema mah bisa nganyam nyieun boboko teh, da diajarkeun ku kolot ema baheula,mimiti diajarkeun nyieun hihid anu gampang,”tutur Ma Entin dalam bahasa Sunda. Artinya kira-kira, sudah sejak kecil oleh orang tuanya diajari membuat boboko. Awalnya hanya belajar membuat hihid yang gampang dibuat”.

Diceritakan Ma Entin , kondisi perekonomian warga yang umumnya perajin bambu , cukup memprihatinkan. Dengan keterbatasan modal, mereka juga kesulitan memasarkan hasil kerajinannya.Bahkan tidak jarang mereka terpaksa harus berhutang kepada bandar untuk membeli bahan baku , dan biaya hidup.

“Hasil anyaman perkakas rumah tangga , suka diborong oleh pengepul yang tentu saja dengan harga rendah. Pengepul atau bandar yang berasal dari luar daerah menjualnya keluar Pulau Jawa,” ujar Imah , salah satu anak Ma Entin.

Berbagai perabot dari anyaman bambu hasil karya puluhan perajin warga Dusun Awilega ini, termasuk milik Imah dijual ke bandar dengan seharga Rp 7.000/buah,tergantung ukurannya. Perajin bisa meraih keuntungan yang lebih besar jika dijual langsung ke konsumen.
”Lamun hasil nganyam diiderkeun ku sorangan, harga bisa rada luhur, bisa nepi Rp 10 rebu dugi 12 rebu hijina,” tutur Imah menjelaskan mengenai harga jual.

Mudah didapat
Mengenai bahan baku, Imah maupun Ma Entin mengaku, di wilayahnya masalah bambu mudah didapat, karena berada di kawasan yang berdekatan dengan hutan. “Perajin memafaatkan bambu yang tumbuh dekat rumah. Tanaman bambu di seputaran permukiman cukup melimpah. Sehingga, tidak ada istilah bagi perajin bambu di sana kesulitan bahan baku,” ucap Imah.

”Yang sulit itu pemasaran dan modalnya, jika tenaga selama proses menganyam bambu tak sulit karena hampir semua warga di sini sudah bisa menganyam bambu,” tambahnya.

Imah berharap, perajin bambu di desanya bisa mendapatkan fasilitasi badan usaha dalam bentuk koperasi , dengan harapan tidak kesulitan modal dan pemasaran. ”Warga mengharapkan ada koperasi simpan pinjam atau sejenisnya, tali temali sebagai pengikat anyaman harus dibeli, selain kadang – kadang juga harus membeli bambu ,” ungkap Imah yang ditemui BB di kediamannya, Sabtu (22/07/2017). (E010) ***