Prasarana Wisata Jabar Belum Baik

256

BISNIS BANDUNG- Provinsi Jabar memiliki destinasi wisata yang sangat banyak, namun disayangkan sekira 60 persen infrastruktur atau prasarana destinasi wisatanya belum dibangun dengan baik.”Banyak pihak terkait yang menginginkan pembenahan infrastruktur dan sumber daya manusia di sektor kepariwistaan provinsi ini,”  kata Agung Suryamal selaku Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jabar kepada pers, pekan ini.

Dia menyebut bila infrastruktur destinasi wisata di Jawa Barat sudah baik, langkah selanjutnya adalah mengoptimalkan sumber daya manusia  pariwisata. Bahkan, Provinsi Jawa Barat harus berani membangun pariwisata kelas dunia.
Kepada Bisnis Bandung, beberapa pemerhati pariwisata menilai bahwa sebagian besar infrastruktur dalam menumbuh kembangkan kepariwisataan di Jabar masih jelek. Padahal, momentum kunjungan mantan Presiden AS Barack Obama bersama anggota keluarganya telah melejitkan citra pariwisata Indonesia di mata dunia.  “Sejak liburan Obama ke Bali dan Yogya, trafik pencarian Google tentang daerah tersebut mengalami peningkatan luar biasa,” katanya.

Momentum tersebut seharusnya juga dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mempromosikan pariwisata nusantara di jagat mancanegara. Dengan demikian,  maka target pemerintah yaitu 20 juta wisatawan pada tahun 2019 bisa terwujud dan juga hal tersebut dapat meningkatkan perekonomian nasional di Tanah Air.
Terkait dengan kunjungan Obama, Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta asosiasi biro perjalanan wisata yang tergabung dalam ASITA atau “online travel agent” (OTA) untuk mulai merancang paket wisata napak tilas Obama. Paket wisata tersebut bisa berisi perjalanan mengunjungi tempat-tempat istimewa yang pernah didatangi Barack Obama selama berlibur di Indonesia.

Sementara itu,   Anggota Komisi II DPRD Jabar, R Yunandar Eka Prawira mengatakan banyak hal yang seharusnya dievaluasi. Kebiasaan mitra komisi kebanyakan menyodorkan kegiatan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, akibatnya anggaran yang dialokasikannya pun menjadi sedikit.

Sektor perekonomian saat ini belum menunjukan perkembangan yang signifikan secara global di Jabar. Efektifitas penggunaan anggaran tidak memiliki tolok ukur yang jelas, indikasinya bermuara pada keberhasilan menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan perencanaan dalam RPJMD.

Bukan hanya output-nya tetapi juga outcome yang seharusnya menjadi ukuran dalam keberhasilan penggunaan anggaran. “Apakah orang yang sudah mengikuti pelatihan ini mampu mendongkrak perekonomian dan mensejahterakan kehidupannya. Atau, apakah petani ini sudah memiliki traktor berapa, sudah dapat meningkatkan produksinya dari hasil program pemerintah,” kata Yunandar.

Umpamanya,  proyek pengembangan wisata alam Geopark Ciletuh secara teori sudah dikatakan tepat dalam pengelolaannya yang mensinergikan semua instansi terkait. Sektor kepariwisataannya jelas digarap Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Tetapi juga didukung oleh dinas lainnya, untuk infrastruktur jalan Dinas Bina Marga yang berperan penting. Termasuk Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa Dan Kawasan (BP2DK) untuk mempersiapkan masyarakat pedesaan yang ada di sekitar Ciletuh.

“Kawasan Wisata bertaraf Internasional Geopark Ciletuh ini salah satu program yang sangat bagus meskipun butuh waktu beberapa tahun hingga sesuai dengan apa yang diprogramkan. Tetapi kita melihat adanya sinergitas yang jelas, dengan tujuan yang mencakup pembangunan perekonomian Jabar,” tandasnya.(B-002)***