Tata Kelola Garam Karut Marut

455
Petani memanen garam di Wedung, Kabupaten Demak, Jateng, Jumat (3/7). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi garam nasional, baik garam petani maupun produksi PT Garam (persero) meningkat dari 2,5 juta ton pada 2014 menjadi 3,5 juta ton pada 2015 ini. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Rei/pd/15.

BISNIS BANDUNG—Pakar Ekonomi, Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama Bandung, Dr. Tezza Adriansyah
Anwar, S.IP. MM mengemukakan, melonjaknya harga garam saat ini karena rendahnya stok garam di dalam negeri.

”Tingginya harga garam di pasar akibat rendahnya stok garam yang ada. Stok garam rakyat saat ini masih sedikit dan baru memasuki musim panen , sehingga menyebabkan kelangkaan garam dan naiknya harga garam di pasaran,” ungkap Tezza .

Rendahnya stok garam ini tidak terlepas dari faktor cuaca yang tidak stabil yang melanda Indonesia. Produksi garam di tanah air masih sangat ditentukan oleh cuaca.

Menurut Dr. Tezza Adriansyah Anwar, S.IP., MM, wajar atau tidaknya kenaikan harga garam bisa dilihat dari berbagai sisi. Harus diakui, kenaikan harga garam yang biasanya di -kisaran Rp 500/kg menjadi Rp 5.000/kg di tingkat petani (kenaikan mencapai 1.000%) merupakan hal yang sangat luar biasa untuk komoditas ini, atau bisa dibilang tidak wajar.

Namun apabila dilihat dari kelangkaan atau rendahnya stok garam, mungkin bisa dimaklumi. Kondisi ini juga menjadi peruntungan tersendiri untuk para petani garam yang jarang sekali mendapat keuntungan besar.

Dr.Tezza yang juga menjabat Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama Bandung mengemukakan, melonjaknya harga garam selain disebabkan oleh rendahnya stok garam saat ini juga berkorelasi dengan kondisi cuaca di Indonesia yang akhir-akhir ini tidak menentu . ”Industri garam di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca,” tutur Tezza , baru-baru ini di Bandung.

Belum mampu
Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia mencatat , total kebutuhan garam nasional baik untuk konsumsi maupun industri mencapai 4,3 juta ton/tahun.

Sementara , produksi garam dalam negeri baru bisa mencapai 1,8 juta ton/tahun. Dari total kebutuhan garam nasional , kemampuan produksi dalam negeri dapat diketahui bahwa produksi garam di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Sentra produksi garam berdasar data Kementerian Kelautan dan Perikatan menyebut, Kabupaten Cirebon (Jawa Barat) memproduksi 435,4000 ton garam pada tahun 2015.

Posisi kedua ditempati oleh Kabupaten Sampang (Madura) dengan produksi sekitar 400.000 ton. Peringkat ketiga Kabupaten Pati (Jawa Tengah) dengan produksi 381,7000 ton.
Total kebutuhan garam nasional untuk konsumsi maupun industri mencapai 4,3 juta ton/tahun.

Program swasembada garam yang sempat digulirkan pemerintah , baru memenuhi kebutuhan untuk garam konsumsi . Tata kelola garam di tanah air terkesan karut marut. Buruknya manajemen pengelolaan garam, terjadi mulai dari produksi di tingkat petani, distribusi, hingga masuk ke industri. Salah satu indikasinya adalah jumlah garam yang diimpor mencapai jutaan ton.

Hal ini seolah-olah menggambarkan produsen garam domestik tidak mampu memproduksi garam dalam jumlah jutaan ton. Padahal sebetulnya bukan tidak mampu, melainkan pemerintah terkesan membiarkan kualitas garam domestik yang kalah bersaing dengan negara-negara lain.

Diperparah oleh praktek melanggar hukum yang dilakukan kartel garam yang mengambil keuntungan impor garam sekira Rp 1.000/kg. Keterangan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), dari kuota impor garam sebanyak 2,25 juta ton, keuntu­ngan yang diraup mereka mencapai 2,25 triliun. (E-018) ***