Haji Punya Uang Rp 100 Triliun, Bagaimana Membelanjakannya?

133

DANA haji yang berasal dari setoran awal, nilai manfaat, dan dana abadi umat, sampai akhir tahun 2016 terkumpul Rp 93,2 triliun. Jumlah itu akan genap menjadi Rp 100 triliun pada akhir tahun 2017. Dana yang terkumpul itu cukup mengagetkan.Baru kali inilah, rakyat Indonesia engeuh, haji dan calon haji ternyata punya dana sangat besar. Departemen Agama dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) baru sekarang secara terbuka mengumumkan dana haji itu.

Munculnya angka itu pada saat pemerintah berusaha mendekati berbagai negara, baik dengan tujuan berutang maupuan menawarkan investasi. Indonesia tengah membutuhkan dana untuk biaya pembangunan, khusunya pembangunan infrastruktur. Aliran dana luar negeri terus masuk Indonesia. Sepanjang dana luar itu berputar di Indonesia, manfaatnya dapat dipetik untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan rakyat. Namun sering kali terjadi relokasi industri ke luar negeri, akibatnya sangat vatal bagi industri, perdagangan, dan ketenagakerjaan.

Dengan adanya dana haji yang fantastik itu, munculah berbagai pendapat. Banyak yang berpendapat, dana itu seyogianya dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur sehingga Inodensia tidak terus menerus menumpuk-numpuk  utang luar negeri. Ada pula yang berkeinginan, dana itu digunakan  untuk membangun hotel di Arab Saudi. Jemaah haji Indonesia tidak harus mencari penginapan yang murah setiap musim haji. Indonesia memiliki fasilitas hotel yang representatif. Pendapat lain muncul pula yakni BPKH turut berinvestasi di dalam negeri, antara lain dengann membeli saham atau obliggasi yang dikeluarkan pemerintah. Prersiden RI, JokoWidodo, menganjurkan dana haji itu untuk investasi rendah risiko daripada dibiarkan menganggur.

Pembicaraan tentang dana haji itu masih terus berkembang. Banyak sekali pendapat yang berlain-lainan. Pendapat itu bahkan meluas sampai kepada masalah yang amat sensitif yakni masalah halal dan haram, masalah riba, utang, dan sebagainya. Ternyata pemanfaatan harta bersama itu tidak terlalu sederhana.  Dana itu merupakan milik umat, milik jemaah haji, bukan milik negara atau lembaga/badan pemerintah. Seperti disampaikan Presiden Joko Widodo, penggunaan uang umat itu harus berhati-hati benar.