UNESCO Sedang Teliti Ciletuh Sebagai Geopark Kelas Dunia

310

BISNIS BANDUNG- Guna memutuskan apakah kawasan Geopark Nasional Ciletuh Palabuhanratu Kab.Sukabumi sesuai dengan kriteria kelas dunia,
maka tim penilai dari UNESCO Global Geopark (UGG) pekan pertama Agustus ini melakukan
peninjauan ke lokasi tersebut.

Tim UNESCO di Ciletuh-Palabuhanratu mengunjungi sejumlah potensi geopark di kawasan tersebut. Mereka juga akan mengunjungi gedung Bumi Walagri Padjadjaran yang juga menjadi lokasi Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Unpad di Surade, Ujung Genteng.
Di lokasi tersebut, tim Puslit Geopark yang diketuai Prof Mega juga akan memamerkan beberapa aktivitas, dan hasil riset akademisi Unpad yang sudah dilakukan di kawasan Ciletuh-Palabuhanratu.

” Ya tanggal 1 hingga 4 Agustus 2017 UNESCO melakukan visitasi ke Taman Nasional Geopark Ciletuh. Dan pengakuan kawasan Geopark Ciletuh sebagai Geopark kelas dunia merupakan upaya yang terus digulirkan pemerintah provinsi,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Ida Hernida menjawab pers di Bandung, pekan ini.

Segala persiapan telah dilakukan, baik infrastruktur maupun masyarakat di lokasi Taman Nasional Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. “Untuk menyambut tim penilaian, kami sudah pula melengkapi hal-hal yang memang belum lengkap, sesuai dengan arahan,” ungkap Ida.

Ia menuturkan, aspek kelengkapan infrastruktur yang telah dilengkapi, di antaranya, petunjuk jalan, panel-panel keterangan, petunjuk arah, air bersih, MCK, tempat sampah dan Geopark Information Centre (GIC).

Bagi masyarakat yang hendak berwisata dan menikmati keindahan alam di sana diimbau untuk menjaga kelestarian dan kebersihan sehingga lokasi wisata alam yang terletak di Jabar Selatan ini mendapatkan penilaian baik dan ditetapkan menjadi Geopark versi UNESCO.
Dalam perwujudannya, Pemprov Jabar menggandeng sejumlah pihak, antara lain Universitas Padjadjaran, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, dan PT Biofarma, Tbk.

Terkait kerja sama dengan Unpad, Geopark Ciletuh-Palabuhanratu sudah lama menjadi objek kajian Prof Ir Mega Fatimah Rosana, Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Unpad selama 13 tahun. Ini didasari keunikan kawasan Ciletuh-Palabuhanratu yang kaya dengan potensi geologi, biodiversitas, dan keragaman budaya.

Pascapenetapkan sebagai kawasan Geopark Nasional, Unpad terus mendorong peningkatan aktivitas riset di Ciletuh. Walaupun fokus riset utama di Ciletuh terbagi menjadi tiga aspek, yaitu Geologi, Biodiversity, dan Budaya, Rektor Unpad Prof Tri Hanggono Achmad mendorong seluruh bidang keilmuan di kampusnya ikut melakukan riset di sana.

Akses Jalan Tol
Sementara itu Wakil Ketua DPRD Jabar, Haris Yuliana menyatakan kawasan objek wisata Geopark Ciletuh, membutuhkan akses berupa jalan tol untuk memudahkan wisatawan menuju objek wisata taman bebatuan tua.

“Geopark Ciletuh di Sukabumi dan Kawasan Pariwisata di Pangandaran membutuhkan akses darat berupa jalan tol dan bandarudara yang memadai. Kebutuhan tersebut mengingat jarak tempuh dari Bandung atau Jakarta ke dua kawasan tersebut yang dinilai masih sangat panjang, yakni dibutuhkan waktu tempuh lebih dari 8 jam ke Ciletuh dan sekitar 6 jam ke Pangandaran,” katanya.

Haris mengatakan dibutuhkan akses langsung berupa tol dari Bandung, Jakarta, dan Bandarudara Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka, untuk menuju kawasan wisata Ciletuh di Kabupaten Sukabumi dan kawasan wisata di Kabupaten Pangandaran.

“Dan saat ini Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) sedang tahap pembangunan untuk menghubungkan Cirebon-Majalengka-Bandung, katanya, perencanaan tol Cileunyi-Majalaya-Garut-Tasikmalaya-Ciamis-Pangandaran harus terus didorong untuk segera direalisasikan,” kata dia.

Sementara itu, lanjut dia, tol menuju Ciletuh bisa digabungkan dengan rangkaian yang sedang dibangun, yakni Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi dan Tol Sukabumi-Ciranjang yang masih dalam perencanaan.

Dengan dibukanya bandarudara di Tasikmalaya untuk penerbangan komersial, sebenarnya bisa memangkas cukup banyak waktu perjalanan dari Jakarta ke Pangandaran.” Tapi di Pangandaran sendiri ada Bandara Nusawiru yang tinggal kita suntik menjadi bandarudara untuk penerbangan komersial dengan jadwal penerbangan yang lebih banyak,” tuturnya.

Ia mengatakan pembangunan bandarudara di sekitar Ciletuh di Kabupaten Sukabumi cukup memungkinkan sehingga akan semakin banyak wisatawan yang dengan mudah ke Ciletuh menggunakan jalur udara. (B-002)***