Rizky Mediantoro, SH.,”Dorong diri untuk di titik maksimal dalam berbuat”

556

Sebagai anggota Dewan Disiplin Anti-Doping Indonesia, Rizky Mediantoro, kelahiran Bandung 31 Mei 1990 mengemukakan bahwa, Dewan Disiplin Anti Doping bekerja untuk menyelesaikan permasalahan terkait kasus doping dalam pertandingan PON XIX Tahun 2016, untuk semua cabang olahraga.  Sebelumnya, dalam panitia besar PON XIX, Rizky Mediantoro merupakan anggota bidang Result Management (manajemen hasil) di bidang kesehatan.  Tugas dari bidang manajemen hasil ini adalah,  memberikan penilaian hasil tes doping atlet yang dinyatakan positif doping oleh hasil analisa laboratorium anti doping di India.

Penilaian yang diberikan berupa kesimpulan,  apakah ada pelanggaran peraturan anti doping atau tidak, setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan data yang dimiliki oleh atlet (Hasil analisa laboratorium, doping control form, dan teuraphetic use excemption).

 Hasil penilaian bidang result management akan dikemukakan dalam dengar pendapat sidang Dewan Disiplin Anti Doping.

“Berawal dari sini, nama saya ikut diusulkan untuk menjadi Anggota Dewan Disiplin Anti Doping kepada Kementerian Pemuda dan Olah raga. Selanjutnya Menteri Pemuda dan Olah Raga mengeluarkan surat keputusan terkait pengangkatan 3 nama anggota Dewan Disiplin Anti Doping” ungkap Rizky Mediantoro.

Latar belakang Rizky sebagai mantan atlet olah raga Boling, dan juga sebagai pengurus Daerah cabang olah raga boling, maupun pengurus Koni Jawa Barat untuk cabang Boling, turut menjadi penunjang bagi dirinya untuk terpilih sebagai salah satu anggota Dewan.

“Selama Dewan Disiplin ini terbentuk, prestasi saya mungkin lebih ke arah menjalankan tugas dan fungsi dengan baik, untuk menghasilkan keputusan berupa sanksi yang seobjektif mungkin dan seadil-adilnya, serta harus sesuai dengan peraturan anti doping”, ungkap Rizky.

Tugas dan fungsi Dewan Disiplin Anti Doping adalah, menggelar dengar pendapat dengan atlet yang melakukan pelanggaran atas Peraturan Anti Doping, menganalisa pelanggarannya sesuai dengan Peraturan Anti Doping, dan ujungnya memberikan sanksi kepada atlet tersebut, berupa larangan untuk ikut serta dalam pertandingan (skorsing).  Hal ini dimaksudkan, agar sanksi yang dijatuhkan sesuai dengan azas utama keolahragaan, yaitu fairplay.

Dewan Disiplin Anti Doping ini dibentuk oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, dengan koordinasi aktif bersama Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI). Dewan Disiplin Anti Doping merupakan amanat dari Peraturan Anti Doping Indonesia, yang diratifikasi dari kode Anti Doping Dunia, dan dikeluarkan oleh WADA.   Dewan disiplin menjadi “kepanjangan tangan” bagi WADA untuk menangani pelanggaran peraturan anti doping.

Rizky Mediantoro, SH. mengklaim bahwa,  pengetahuan mengenai Anti Doping, literasinya hampir semua diambil dari Peraturan Anti Doping, termasuk Kode Anti Doping Dunia yang dikeluarkan oleh WADA (World Anti Doping Agency). Juga ada literasi beberapa keputusan yang dikeluarkan CAS (Court Arbritation of Sport), serta keputusan Dewan Disiplin terdahulu.  Dan yang paling efektif dari diskusi dengan senior di LADI.

“Yang paling utama adalah baca. Insya Allah saya selalu berusaha melakukan yang terbaik, dan mendorong diri saya untuk di titik maksimal dalam berbuat. Sama mungkin ketika sedang berada di lingkaran orang orang yang lebih pintar dan lebih baik dari saya, disana saya merasa lebih banyak belajar melalui diskusi informal, dan juga dari pengalaman mereka”.

Rizky menjelaskan, bila seorang atlet menggunakan zat doping, selain dia melanggar prinsip fairplay, juga akan membawa dampak yang berbahaya bagi atletnya sendiri, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Penggunaan doping di Indonesia tidak sebanyak di luar negeri, dan hanya cabang cabang tertentu yang rawan penggunaan doping, seperti cabang olah raga Binaraga.  Sebenarnya, kasus penggunaan zat doping di Indonesia,  hampir 70% didasari oleh ketidaktahuan, dan mayoritas berupa penggunaan suplemen serta vitamin yang sebenarnya mengandung zat doping.

Ada 2 jenis zat doping, yaitu spesifik dan non-spesifik.  Spesifik artinya, zat doping itu dapat saja diproduksi secara Endogen oleh tubuh manusia, melalui obat obatan yang dijual bebas, seperti Dexametasone.  Zat yang ini tergolong doping, karena dapat mempercepat pemulihan regang otot pasca latihan atau pertandingan.

Non-spesifik artinya, zat doping ini tidak tergolong endogen, dan merupakan zat yang masuk dari luar tubuh.   Zat doping dapat saja dikonsumsi oleh atlet, apabila atlet itu membutuhkannya untuk pengobatan, dengan menyampaikan berkas TUE, yakni rekomendasi keterangan dokter, kepada panitia pertandingan.

Proses penegakan hukum bagi kasus doping, hanya baru bisa dilakukan dan diaplikasikan  dalam event besar di Indonesia, seperti PON.  Pertandingan setingkat  Kejurnas apalagi Kejurda, mengadakan tes doping hanya sampai tahap manajemen hasil, karena Indonesia tidak memiliki laboratorium yang tersertifikasi oleh WADA, untuk menganalisis urine atlet.  Bila masih memaksakan untuk menganalisa, Indonesia akan diberi sanksi “banned” oleh WADA. “Untuk menganalisis urine di laboraturium terakreditasi WADA harganya mahal.   Satu sampel saja harganya bisa mencapai  3-5 juta, exclude shipping.  Di Asia, yang paling murah harganya sekitar 5 juta, yaitu di Thailand dan India.  Hal inilah yang menjadi kendala bagi penerapan proses hukum terkait kasus doping di Indonesia, sehingga kurang memberikan efek jera.  Setiap pelaksanaan PON, kasus doping terus bertambah (Pon Kaltim 8 kasus, Pon Riau 10 kasus, Pon Jabar 14 kasus), walaupun sanksinya itu berat, yakni diskualifikasi semua hasil pertandingan atlet, dan larangan ikut serta dalam pertandingan sampai 4 tahun” ungkap Rizky.

Pengalaman positif selama Rizky menjadi anggota Dewan Disiplin Anti Doping adalah, ia banyak mendapat ilmu baru terkait dunia olahraga.  Selain itu, ruang silaturahmi dan jaringan juga semakin terbuka.

“Pengalaman negatifnya hanya satu, yakni ketika saya harus ikut memutuskan sanksi terhadap atlet yang berasal dari daerah yang sama dengan saya yaitu Jawa Barat. Namun, saya berusaha untuk memegang amanah yang saya emban, agar memiliki pandangan objektif, serta seadil-adilnya dalam melihat permasalahan,” akunya.

Rizky Mediantoro, Rambah jalur politik dan usaha.

Rizky Mediantoro menjelaskan, bahwa ia juga menjalankan profesi di bidang lain, yakni sebagai wirausaha, aktivis sosial dan kepemudaan, serta ikut terjun ke ranah politik.  Untuk membagi waktu dari beragam aktivitas tersebut, Rizky mengutamakan pada pelaksanaan program kerja dari masing-masing bidang, dan ada beberapa sektor yang bisa ia delegasikan ke partner.

Prioritasnya adalah, program mana yang bisa lebih cepat dan mudah dijalani. Kemudian dilihat, mana yang lebih krusial beban tanggung jawabnya untuk dijalani.  Semuanya tetap kembali ke manajemen waktu.

Rizky juga masuk di lingkaran politik praktis sejak tahun 2012 yang lalu, namun belum memutuskan untuk berwarna. “Mumpung masih muda”, banyak belajar dan banyak berkontribusi, itu yang Rizky Mediantoro jalani.

“Saya senang berkegiatan, memperluas jaringan, bersilaturahmi, menghadapi masalah, dan Insya Allah semua itu akan menjadi ladang amal baik, yang membawa kebaikan dan kemaslahatan.   Yang paling berjasa besar dalam karir saya adalah keluarga, khususnya orang tua dan kedua adik saya. Mereka sangat mendukung apapun yang saya tekuni dan jalani. Doa, nasihat, dan dukungan mereka, adalah yang paling luar biasa, karena hampir semua kebaikan berangkat dari keluarga,” pungkasnya kepada BB.  ( E-018)***