Masyarakat Jadi Penonton, Jawa Barat Menjadi Objek Pembangunan

656

BISNIS BANDUNG– Guru Besar Universitas Pasundan (Unpas), Prof.H Rully Indrawan mengemukakan, menyambut perhelatan politik (Pilkada) Jawa Barat tahun depan, sebaiknya semua pihak, mulai dari parpol, masyarakat, tokoh masyarakat, maupun kekuatan civil society agar memahami konstelasi pembangunan Jawa Barat yang kemungkinan besar akan mengalami perubahan yang amat cepat akibat pembangunan infrastruktur strategis yang massif.

Berdasarkan pengalaman masa lalu, menurut Rully , banyak pembangunan yang menyebabkan masyarakat hanya menjadi penonton, bahkan menjadi korban perubahan yang terjadi di wilayahnya. Hal ini disebabkan oleh tiga hal . Pertama , masyarakat tidak mengetahui atau menyadari pembangunan yang akan dijalankan.

Kedua, perubahan yang terjadi tidak bisa diikuti oleh potensi ekonomi yang dimiliki oleh masyarakat. Ketiga, ketiadaan rencana pembangunan yang komprehensif yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari model perubahan yang terjadi, ungkap Rully , Selasa (1/8/18) kepada BB di Bandung.

Untuk melibatkan masyarakat dalam perubahaan yang terjadi, sebaiknya dipersiapkan upaya mengoptimalkan peran serta kelembagaan ekonomi masyarakat, dalam hal ini Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM), agar pelaku usaha daerah bisa berkontribusi dalam memanfaatkan masuknya arus investasi ke daerah.

Makna pemetaan Guna mendukung ke arah itu, lanjut Rully penting maknanya, pemetaan potensi usaha daerah yang memberi gambaran detil dalam penyusunan program pembangunan yang komprehensif.
Pemetaan yang dimaksud antara lain, mencakup potensi sumber daya alam, kemampuan sumberdaya manusia dan kelembagaan serta spesifikasi kewilayahan yang mendukung lahirnya produk unggulan.

Dikemukakan Rully, pemetaan tidak bersifat sektoral dan sesaat , namun seyogyanya holistik, lintas sektoral, spasial, dan berkesinambungan. ”Yang lebih penting, dokumen itu digunakan saat merumuskan berbagai kebijakan yang diambil atas nama kesejahteraan rakyat,” ujar Rully.

Prof Rully yang juga sebagai Wakil Direktur Pasca Sarjana Universitas Pasundan , lebih lanjut mengatakan, kebijakan pengembangan potensi daerah melalui pengembangan UMKM pada dasarnya merupakan pelibatan sebanyak mungkin masyarakat dalam proses dan pemanfaatan hasil pembangunan.

Tugas penyelenggara pemerintahan memiliki tantangan yang tidak ringan dalam merumuskan, mengimplemtasikan, dan mengevaluasi kebijakan di tengah kendala berupa belum efektifnya reformasi birokrasi yang sudah berjalan beberapa tahun .

Sebab itu , kata Rully, pimpinan yang akan datang hendaknya memaknai Jabar dalam perspektif yang berbeda dengan masa lalu. Jabar akan menjadi wilayah yang dirancang memiliki dua kawasan metropolitan (Bandung Raya dan Ciayumajakuning) melengkapi wilayah Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek yang sudah menjadi bagian wilayah Metropolitan Jakarta.

“Sepuluh tahun mendatang, Jabar akan menjadi metropolitan yang luas, malah terluas di Asia. Karenanya sejauh mana kesiapan SDM dan infrastruktur budaya mensikapi laju pembangunan,” tambah Rully. (E-018)**