Texas Rodeo Cowboy, Kota Legenda Film Western

418

Dari Los Angeles, saya, Andreas dan Hengky, melakukan perjalanan selama empat jam penerbangan untuk sampai ke Dallas, negara bagian Texas. Kota ini merupakan kota tua di Amerika Serikat yang pada beberapa kawasannya dijadikan lokasi syuting film western/ film koboy.

Jadi tak heran, jika di kota ini kita melihat sosok koboy berkuda atau menggunakan ”bendi” dengan baju rompi, topi dan senjata tergantung di ikat pinggangnya. Karena Kota Dallas, merupakan kota negara bagian Texas yang memiliki undang- undang tersendiri mengenai kepemilikan senjata api dibanding dengan negara-negara bagian lain di Amerika Serikat .
Di kota ini, turis bisa membeli senjata api dengan bebas. Syaratnya, memperlihatkan paspor. Bayar, sesuai jenis senjata yang dibeli .

Sebagai kota tua dan bersejarah terutama dalam dunia perfilman, di Dallas terdapat sebuah kawasan bernama Fort Worth Stockyard. Sebuah tempat pengambilan adegan untuk film-film koboy. Di kawasan ini, bisa kita lihat pampangan tulisan ”Texas Rodeo Cowboy” . Juga terdapat bangunan museum yang berisi aneka peralatan yang digunakan dalam pembuatan film koboy masa lampau.

Ada hal yang unik dan menarik di kota koboy ini , sebagai sebuah kota metropolitan, penganut agama Islam di sini cukup banyak. Bahkan ada suatu kawasan yang penduduknya semua beragama Islam dengan bangunan masjid berdiri cukup representatif.

Warga muslim di sini, bekerja di berbagai sektor usaha, di sejumlah kontraktor, sopir taksi ( private taxi ), di restoran/pengusaha restoran. Mereka umumnya berasal dari Afrika , Banglades dan Timur Tengah .

Saya yang memiliki ”lidah”citarasa Indonesia dalam soal makanan, di kota ini tidak terlalu sulit untuk menyantap nasi. Karena ada restoran yang menyediakannya , walau lauk- pauk pada umumnya berasal dari daging sapi (steak) . Mungkin karena di Kota Dallas banyak peternakan sapi.

Dikemudikan pemiliknya
Hal lain yang menarik di kota ini, pengendara taksi umumnya dikemudikannya langsung oleh pemiliknya (private taxi). Mobil sedan yang digunakan cukup mentereng dan mewah , seperti Cadilac, Limousin dan Buick. Secara kebetulan, taksi yang saya naiki dari Bandara Dallas menuju tempat penginapan pernah ditumpangi aktor Hollywood terkenal, Tom Cruise dan Paris Hilton.

Hal itu, saya ketahui dari sang sopir bernama Mochamad Islam, pemilik taksi yang berasal dari Daka Banglandes. saat ngobrol “ngalor-ngidul” selama perjalanan dari bandara ke penginapan.

Taksi tidak dibayar seberapa jauh dari asal sampai tujuan, tidak sebagaimana di negara kita umumnya, pembayaran penggunaan taksi dihitung jarak/jauh . Di Dallas dihitung berdasar lama waktu penggunaan (sekian menit atau jam) .

Sampai di penginapan , saya harus merogoh kocek untuk bayar taksi sebesar 175 dollar AS atau sekitar Rp 2 juta untuk waktu penggunaan kurang lebih satu jam dari bandara dan mampir di restoran. Di Dallas , saya, Andreas dan Hengky hanya menginap semalam.

Perjalanan berlanjut menuju Arkansas, negara bagian yang terletak di sebelah timur Amerika Serikat dengan jarak tempuh sekitar 800 kilometer . Dengan masing-masing menggunakan sepeda motor Harley Davidson yang disewa USD 115 atau Rp 1,5 juta/hari , berangkat dari penginapan pukul tujuh pagi waktu setempat .

Kami sengaja menggunakan sepeda motor dengan maksud agar lebih bisa menikmati suasana perjalanan . Wilayah yang kami lalui, merupakan kawasan hutan pinus . Dengan cuaca dingin sekitar tujuh derajat celsius, ditambah angin kencang , cukup mengganggu perjalanan kami yang terbiasa dengan iklim Indonesia .

Terpaan angin sangat terasa sekali pada helm yang saya gunakan dan bibir yang “gemeretak” kedinginan . Sekitar jam 10 malam, kami tiba di Arkansas. Di kota ini , kami menginap untuk memulihkan stamina yang terkuras saat menempuh perjalanan jauh dan menembus dinginnya udara, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Tampa Florida , sebuah kota pelabuhan.

Dari Arkansas ke Tampa menempuh perjalanan sekitar 600 kilometer melintas jalan bebas hambatan (Free Way) dan hutan pinus yang dipinggirnya terdapat rawa-rawa yang sesekali terlihat Aligator (buaya) sedang berjemur, Antelope ( rusa) dan burung elang. Beberapa bangkai Antelope yang tertabrak kendaraan, tampak tergeletak di pinggir jalan.

Batas kecepatan melaju di jalur Free Way 100 km/jam . Di Tampa yang memiliki suhu udara antara 14 – 16 derajat celsius, kami ketemu dengan orang Indian suku Micco Sukke. Karena daerah ini merupakan pemukiman orang Indian.
(Dudi dari Amerika Serikat)***