Investor Tunggu Kepastian Kinerja Startup Lokal

320

PERINGATAN dini bagi usaha rintisan di tanah air. Berdasarkan rilis dari East Ventures (31/7), laju bisnis startup lagi terhambat.
Perusahaan modal ventura yang aktif berinvestasi di Indonesia ini menyebut pertumbuhan bisnis rintisan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, turun 23% dibanding periode serupa tahun lalu. Sayang, East Ventures tidak merinci besaran nilai investasi startup tersebut.
Namun penyebab penurunan kinerja itu lantaran usaha rintisan punya kendala. Seperti sulit meneĀ­rapkan proses kerja yang tepat untuk memompa kinerja. Alhasil, nilai investasi yang ada pada usaha rintisan pun jadi turun.
Kondisi ini bisa membuat para modal ventura jadi rada hati-hati dalam menginjeksi modal ke usaha rintisan. Sebab para pemodal rupanya ingin melihat start up bisa merancang sebuah unit bisnis yang tepat, bukan sekedar membuat produk semata.
Rieka Handayani, Head Public Relation Indonesian E-Commerce Association (idEA) menampik survei tersebut. Berdasarkan pengamatannya, masih banyak start up anyar yang bermunculan. “Setiap saya pergi ke daerah pasti ketemu saja dengan yang baru,” katanya.
Ia memprediksi pertumbuhan start up masih menjamur hingga 2020. Tahun itu juga akan menjadi momen penentu keberhasilan para pembesut start up mempertahankan bisnisnya.

Masih menunggu
Adapun para pemodal saat ini bukannya enggan menyuntik dana tapi dalam posisi lihat dan tunggu terkait perkembangan para start up. ” Investor dalam negeri masih banyak yang mengucurkan dana melalui ajang inkubasi,” katanya lebih lanjut.
Namun ia akui untuk usaha rintisan yang sudah berjalan, memang perlu ada penyesuaian.

Seperti berkolaborasi untuk bertahan hidup. Ambil contoh Blibi.com yang mengakusisi Tiket.com. Sebab modal kerja untuk meneruskan bisnis rintisan yang sudah besar memang perlu injeksi modal yang tidak sedikit.

Ini pula yang membuat start up raksasa seperti Gojek, Grab atau Traveloka mendapat suntikan dana besar belum lama ini dari para modal ventura kelas kakap. Tujuannya adalah supaya laju bisnis usaha rintisan tersebut bisa terus menyala lantaran masih butuh injeksi modal untuk pengembangan bisnis.

Menurut Daniel Tumiwa, Dewan Pengawas idEA, ekspansi besar-besaran dari pelaku bisnis online tersebut memang tidak serta -merta membuat jumlah pekerja bertambah banyak.

Sebab yang jadi incaran utama pada pebisnis ini adalah bisa menciptakan pekerjaan dan ladang bisnis yang baru. “Sebab, internet itu tidak padat karya,” katanya.

Daniel pun berucap bahwa meski investor sudah mengeluarkan uang miliaran dolar ke perusahaan rintisan atau internet, tidak terlalu berdampak ke tambahan tenaga kerja.

Menurut Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Start Up Indonesia (Amvesindo), Jefri Rudyanto Sirait penanaman modal di usaha rintisan tahun ini memang terlihat sedikit menurun, “Kalau di bandingkan tahun 2016 ada kecenderungan sedikit menurun kurang lebih 7%-8% secara tahunan (yoy), baik secara number of deals di dunia, regional dan indonesia,” katanya.

Ia memprediksi injeksi modal ke para usaha rintisan sepanjang tahun ini bakal tidak seagresif tahun sebelumnya. Lantaran investor bakal lebih rasional dalam melihat pertarungan bisnis usaha rintisan.

Terkait bidang usaha yang jadi incaran pemodal, ia menyebut bidang teknologi finansial (tekfin). Setelah itu ada lagi bidang media dan smart city. (C-003/kntn)***