UMR Rendah, Jadi Incaran Industri Manufaktur

296

PERUSAHAAN riset, Nielsen Indonesia melansir saat ini Jawa Tengah menjadi primadona bagi para pelaku usaha di industri manufaktur. Penyebabnya karena upah minimum rerata (UMR) di wilayah tersebut masih terbilang rendah.

Direktur Pelaksana Nielsen Indonesia Agus Nurudin mengatakan, saat ini upah minimum di Jawa Tengah hanya Rp1,7 juta per bulan. Minimnya UMR di wilayah tersebut menjadi faktor yang paling diperhitungkan bagi industri manufaktur untuk membuka pabrik di wilayah tersebut.

“Central Java itu diincar sama industri manufaktur, sebagai area yang paling diperhitungkan,” ungkapnya saat berbincang dengan media di Mayapada Tower, Jakarta, Kamis (4/8/2016).

Meskipun UMR di Jawa Tengah rendah, para pekerja di daerah tersebut tidak kerap melakukan protes ataupun demonstrasi. Hal ini juga yang menjadi bahan pertimbangan para pengusaha untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai incaran baru.

Sebab, hal berbeda terlihat jelas di Ibu Kota. Dengan upah minimum sebesar Rp3,1 juta per bulan, para pekerja di Jakarta masih tidak puas.

Bahkan, para pekerja Ibu Kota tidak jemu-jemunya melakukan unjuk rasa agar upah minimum bisa kembali dinaikkan.

“Jakarta itu UMR Rp3,1 juta saja protes, sering mogok lagi. Jawa Tengah dikasih Rp1,7 juta enggak mogok. Tenang-tenang saja. Jadi regionalisasi juga berpengaruh dan menjadikan daerah itu menarik,” tandasnya. (C-003/Syaerin/bbs)***