Mendayagunakan Koreak

180

DALAM mitos sebagian orang Sunda, koreak merupakan burung penyebar kematian.  Burung malam itu sering kali berkeliaran sambil berbunyi laiknya teriakan yang menyeramkan. Dulu, di perkampungan, ketika orang mendengar teriakan koreak, harus segera membalikkan badan dari telentang menjadi telungkup atau miring ke arah kanan. Ada ungkapan yang sampai sekarang masih dikenal di masyarakat Sunda ketika terdengar bunyi koreak, ”Ka sabrang ka Palembang!” Ungkapan yang membuat orang Palembang merasa nyinyir itu, kemudian ditambah dengan ungkpan lanjutannya yakni ”ari balik mawa kurupuk!”  Maka cairlah ”ketegangan” wong kito dan urang Sunda akibat koreak tersebut. Permusuhan manusia Sunda terhadap koreak, hampir sama dengan perlakuan terhadap bueuk padahal bueuk di Barat diabadikan sebagai simbol  ilmu pengetahuan atau orang berilmu.

Koreak merupakan burung pemangsa berukuran cukup besar, termasuk jenis burung hantu berbulu putih. Orang menyebutnya juga  serak jawa atau bueuk bodas. Dalam kamus fauna disebut   tyto alba. Berbeda dengan burung lain, koreak  memiliki wajah bulat agak pipih, matanya besar berparuh agak melengkung. Persis burung hantu hanya bulunya saja yang putih berbintik coklat kehitaman, terutama pada ujung-ujung sayapnya. Cakarnya kuat dengan kuku-kukunya yang tajam.

Sebagai predator dan burung malam, pandangannya sangat tajam. Pergerakannya memang kalah cepat dibanding elang atau camar. Koreak suka hinggap di pohon-pohon tinggi atau di atap-atap rumah kosong. Mangsa utamanya tikus namun apabila tikus jarang, anak ayam, anak burung, bahkan katak, dilahapnya pula. Pada musim kering, koreak sering berteriak-teriak di malam hari, mencari air, mendekati kolam, sungai, atau tempat penampungan air warga kampung. Karena kehausan, sering kali, koreak terdampar  di tepi kolam kering, di kebun,  atau di halaman rumah penduduk.