Siapkan Langkah Atasi Kekeringan

80

BISNIS BANDUNG- Provinsi Jabar diminta mengantisipasi dampak keke -ringan pada musim kemarau hingga saat ini. ” Dan pemprov telah mengadakan rakor soal antisipasi kekeringan ini, tapi kami berharap pemprov mengantisipasi dampak kekeringan,” kata Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Haris Yuliana, pekan ini.

Ia mengapresiasi langkah Pemprov Jawa Barat yang telah melakukan rakor untuk mengantisipasi dampak kekeringan dengan DPRD Jawa Barat. “Ini artinya kekeringan sudah terprediksi oleh pemprov,” ungkapnya.

Diharapkan, akan ada hasil berupa antisipasi dampak kekeringan dari hasil rakor tersebut.
Kekeringan ini tidak bisa dihindari jadi harus ada antisipasi seperti pompanisasi atau pembagian air bersih kepada warga.

Menurut dia, sejumlah dinas terkait di lingkup Pemprov Jawa Barat bisa segera menyiapkan langkah-langkah antisipasi kekeringan. “Kita tahu masih ada kabupaten/kota di Jawa Barat yang belum memiliki BPBD, jadi kami harapkan BPBD Provinsi Jawa Barat bisa memback-up hal tersebut,” kata dia.

Selain itu, harus ada koordinasi lintas sektor terkait antisipasi dampak kekeringan di Jawa Barat. “Urusan kekeringan ini bukan hanya terkait dengan BPBD tapi dinas lainnya juga,” kata dia.

Ia mencontohkan ketika musim kemarau melanda Dinas Pertanian harus melakukan sosialiasi ke masyarakat di wilayah utara Jawa Barat tentang tananam apa saja yang kuat ditanam saat musim kemarau.

“Kita tahu di Pantura Jabar itu terkait produksi hasil bumi seperti padi dan lain-lain kalau musim kemarau tiba, sedangkan di perkotaan lebih kepada akses pada air bersih,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar Dicky Saromi mengatakan, hingga pertengahan Juli 2017, luas sawah yang mengering mencapai 364 hektare. Kemarau pun sudah terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota di Jabar.

Ratusan hektare sawah yang mengering itu umumnya berada di kawasan utara Jabar, seperti Cirebon, Majalengka, hingga Purwakarta. Sawah-sawah yang terkena dampak musim kemarau ini mengering karena minimnya pasokan air dari irigasi atau sungai-sungai yang debit airnya berkurang drastis. Tapi itu baru terdampak, belum sampai fuso.

Menurut dia, dalam setiap 100 meter persegi sawah yang mengering itu tidak seluruhnya mati. Namun, jika kemarau bertambah parah, ratusan hektare sawah itu kemungkinan besar akan fuso. Bahkan, sawah yang mengering akan semakin luas.

“Untuk antisipasi (sawah) fuso, kami rutin menyiagakan pompa air. Selain dari pemerintah provinsi, bantuan pompa diberikan juga pemerintah pusat dan kabupaten. Pihaknya sudah menerjunkan petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT),” katanya.

Mereka bertugas untuk melakukan sosialisasi kepada petani agar terhindar dari dampak musim kemarau. “Sejak awal kita sudah antisipasi dan wanti-wanti ke petani. Jangan memaksakan menanam padi pada lahan sawah yang tidak mungkin terairi di musim kemarau,” katanya seraya meminta petani agar mengganti menanam padi de­ngan palawija.
Dia menambahkan, banyak petani di Jabar salah memprediksi cuaca, sehingga tidak sedikit sawah yang mengering akibat kemarau.

“Petani tetap menanam padi karena 2016 kemarin lahannya enggak kena hujan. Petani juga berharap Juni, Juli, Agustus ini masih ada hujan, ternyata sekarang kemarau,” tandasnya. (B-002)***