Hendri Hendarta, Bisnis itu Sebuah Kompetisi

458

Hendri Hendarta, kelahiran 2 November 1960,
dan ayah dari lima orang anak, kini menjabat
sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia-DPD
Aprindo Jawa Barat.

Suami dari Ir. Nia Kurniati ini, bergabung dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sejak tahun 1994. Asosiasi ini dibentuk di Bandung oleh para pelaku usaha ritel dan toko yang ada di Bandung.

”Awal ketertarikan bergabung di wadah ini yang pertama adalah, karena saya bekerja sebagai profesional di salah satu riteler/toko anggota Aprindo,” tutur Hendri yang sudah lebih dari 20 tahun aktif di Aprindo Jawa Barat.

Dengan latar belakang pendidikan S-1 Fakultas Hukum Universitas Parahyangan Bandung, Hendri mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di strata 2 bidang Strategic Marketing pada tahun 1993.

Diakuinya, latar belakang pendidikan sangat berpengaruh dalam kiprah pekerjaan dan profesinya saat ini, juga dalam kehidupan berorganisasi. Banyak pengalaman berharga yang diperoleh, dan juga bisa me­ngenal berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda.
Mengenai jumlah anggota Aprindo Jabar, Hendri menyebutkan bahwa jumlahnya ribuan, terdiri atas toko dan gerai, serta 16 perusahaan pemasok barang.

Organisasi ini menjadi wadah bagi para pelaku usaha, yang umumnya memiliki kiprah untuk menjadi toko pilihan masyarakat, dan ingin memberi pelayanan yang sebaik–baiknya, agar konsumen mau datang belanja dan belanja kembali.

”Selain aktif di DPD Aprindo Jabar, ada beberapa organisasi lain yang saya ikuti juga, dan sejalan dengan profesi serta pekerjaan saya,” tutur Hendri.

Mitra pemerintah

Aprindo sebagai organisasi pelaku usaha akan selalu menjadi mitra pemerintah. Aprindo berada di garis depan dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaannya.

Hendri menyebut, banyak faktor yang mempengaruhi kelangsungan usaha pada bisnis ritel selain masalah daya beli masyarakat. Peran pemerintah juga sangat mempengaruhi kelangsungan usaha ini, misalnya untuk masalah politik sosial, yang juga bisa berpengaruh pada bidang usaha.

Bicara mengenai kebijakan pemerintah, menurut Hendri, saat ini bagi pelaku usaha merupakan era moratorium, di beberapa daerah menerbitkan ketentuan/aturan pembatasan izin pasar modern.

Tujuannya positif, yakni supaya pasar rakyat bisa tetap hidup. Tapi yang lebih penting adalah, pasar rakyat harus bisa membenahi diri.

”Bisnis itu sebuah kompetisi. Persaingan adalah hal yang paling sering terjadi dan dijumpai dalam dunia bisnis,” pungkas Hendri mengenai dunia usaha. (E-018)***