Mobil Listrik Nasional Diproduksi Tahun 2020

113

Untuk pengembangan mobil listrik nasional, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi membentuk tim dari empat universitas dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Menurut Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir, empat universitas yang dilibatkan, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS).

“Pertimbangannya karena fakultas teknik yang mengembangkan, dia adalah perguruan tinggi yang berkonsentrasi mengembangkan baterai. Ada yang pengembangan ke mekatroniknya, ada yang ke materialnya, ada di elektronikanya,” kata Nasir.

Nasir mengakui pengembangan mobil listrik tidaklah mudah. Namun sebelumnya proses tersebut sudah berjalan. Pada tahun lalu diakui Nasir , pemerintah sudah melakukan uji prototype. Selanjutnya akan dilakukan inovasi dan uji material.

“Pada mekatroniknya sudah diuji, berikutnya adalah skill up industri massal (produksi) target 2020. Tapi enggak bisa langsung, ada proses sertifikasi. Motor sudah selesai, mudah-mudahan segera masuk industri, kemudian dilanjutkan mobil listrik,” ujarnya. Sebelumnya, pemerintah melakukan kajian untuk regulasi kendaraan listrik di Indonesia.
Di dalamnya, akan ada insentif bagi produsen, juga kendaraan yang menggunakan listrik.

pengembangan mobil listrik sudah tak bisa dihindari lagi. Indonesia harus bersiap, karena industri otomotif akan mengarah ke sana deĀ­ngan adanya tren dunia dan menekan angka produksi emisi gas buang dari kendaraan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meĀ­ngatakan, sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini sangat siap untuk mendukung pengembangan mobil listrik.

Jonan menyebut, SDM Indonesia mampu merakit mobil listrik karena sebenarnya SDM Indonesia sudah sangat mumpuni dalam industri perakitan. Untuk memproduksi mobil listrik, sebenarnya hanya mengganti komponen bahan bakar menjadi baterai.

“Pembedanya hanya menghilangkan mesinnya diganti dengan baterai” kata Jonan yang dikutip BB dari situs resmi Kementerian ESDM.

Jonan menambahkan, dari sisi sumber daya manusia, Indonesia sudah siap, dan untuk mengisi daya listrik ke dalam baterai ada beberapa alternatif, misalnya menukar baterai yang kosong dengan baterai yang terisi penuh di stasiun pengisian. Hal ini seperti skema pengisian tabung Liquified Natural Gas (LPG). (E-002/BBS)***