Karya Mang Ujang Patung Mini Dilihat dengan Kaca Pembesar

104

Patung dengan ukuran yang biasa dijadikan pajangan di rumah maupun di tempat- tempat keramaian dan Galery mungkin sudah biasa dan banyak kita jumpai. Namun, apa jadinya bila ada patung yang berukuran sangat kecil sampai bila kita ingin melihatnya secara detail harus dibantu dengan kaca pembesar.

Di daerah Cileunyi Kabupaten Bandung Jawa Barat, terdapat seorang perajin yang bisa membuat patung mini yang besarnya hanya seukuran butiran beras. Uniknya, patung-patung kecil ini dibuat dengan menggunakan peralatan sederhana yang biasa dipakai untuk membuat ukiran patung .

Sebut saja Mang Ujang, seniman pembuat patung asal Desa Cileunyi Wetan Kabupaten Bandung ini, sejak lama dikenal sebagai sososk seniman patung. Sudah puluhan tahun, Mang Ujang berkarya membuat ukiran patung yang dilakukannya secara otodidak.

Meski kemampuannya membuat patung diperolah secara otodidak , sudah banyak hasil karya ukiran patung buatan Mang Ujang .

Setelah dapat membuat patung ukuran sedang sampai besar, kini Mang Ujang mencoba membuat sejumlah patung unik berukuran mini. Meski jika ingin melihat detail patung ini harus dibantu dengan kaca pembesar.

Patung mini , karya Mang Ujang , sejauh ini belum bisa dipasarkan secara besar besaran,mengingat proses pembuatannya yang membutuhkan ekstra ketelitian dan memakan waktu agak lama.

Menurut Ujang, patung mini yang berukuran tak lebih dari 3-5 milimeter yang dibuatnya semula hanya iseng saja. Namun menjadi kebanggan tersendiri bagi dirinya,dan belum berani memasarkan dalam jumlah banyak, apalagi mematok harganya.

Dengan alasan masih perlu banyak latihan dalam pembuatannya yang lebih detail, Mang Ujang mampu membuat sejumlah patung mini , seperti bentuk orang, hingga kuda yang sedang berdiri.

“Membuat patung ini harus menggunakan kayu yang mempunyai tingkat kekerasan yang cukup dan berkualitas. Sebab, untuk membuat detail patung cukup rumit. Jadi, kalo kayu yang digunakan rapuh jangan harap bisa,” kata Mang Ujang kepada BB yang menemuinya di rumahnya di Cileunyi,Sabtu (12/08/2017) . Selama ini, patung mini buatan Mang Ujang menggunakan bahan baku kayu pohon nangka, senokeling atau kayu mahoni. Di sela- sela membuat patung besar yang standar, di antara anaknya ikut membuat patung berukuran kecil tersebut .

Meski masih dalam proses coba- coba hasil pembuatan ukiran patung mini karya anaknya ini terlihat cukup berkualitas, hampir sama dengan hasil karya ayahnya (Mang Ujang).

“Pembuatan patung mini ini, saya harap bisa diteruskan oleh anak saya. Saya ingin patung ini dikenal orang banyak. Termasuk pemerintah, sehingga seni kerajinan patung dapat bertahan dan bisa dihargai,” ungkap Mang Ujang berharap .
Daerah Cileunyi dan Cipacing yang letaknya satu hamparan banyak terdapat industri rumahan .

Tidak sebatas senapan angin
Di Cipacing tidak hanya terdapat industri rumahan tempat membuat senapan angin. Tapi banyak pula industri rumahan yang memproduksi karya seni dari bahan kayu, seperti patung dan alat musik.

Beberapa kios di daerah Cipacing menjual berbagai jenis patung serta alat musik tabuh dan tiup, seperti jimbe, marawis, kendang, suling, dan lainnyai. Bahan baku untuk pembuatan kerajinan tersebut didatangkan dari luar daerah.

”Bahan baku kebanyakan saya beli dari daerah Jogja dan Blitar. Kalau untuk bahan kulit, dibeli dari Garut,” ujar Udin perajin alat musik tabuh.

Pembelinya berasal dari berbagai daerah, dari mulai Bandung, Jakarta, hingga Sumatera. Bahkan, hasil produksinya sudah sampai ke mancanegara, seperti Malaysia, Brunei, hingga Jepang dan Korea.

”Ada juga yang langsung menjual ke luar negeri, antara lain ke Malaysia dan Jepang. Orang Korea atau Jepang pemilik pabrik di Indonesia, suka pesan yang kemudian diki­rim ke negaranya,” tambah Udin.

Sulaeman, perajin lainnya mengaku , sudah mulai membuat kerajinan dari kayu sejak tahun 1970-an. Kerajinan yang dibuatnya dalam berbagai jenis, dijual ke Jakarta, Bali, Palembang, Surabaya, bahkan Batam.

Keluar negeri sampai ke Belanda, Amerika Serikat, Malaysia.” Yang paling sering pesan, adalah orang Malaysia,” ujar Sulaeman seraya menambahkan bahwa patung paling diminati oleh orang asing, adalah miniatur patung Asmat. Sementara pembeli lokal lebih tertarik pada wayang. Pembeli terkadang memesan sendiri bentuk patung yang diinginkan.

Penjualan kerajinan dari kayu tidak terlepas dari kendala, salah satunya musim. Ketika musim hujan, kayu lebih sulit dida­pat. Selain , sulit untuk mengukir kayu karena kayu tidak kering.

Saat ini, industri rumahan kerajinan kayu di Cipacing terus berusaha mengembangkan usahanya agar semakin berkembang. Daerah Cipacing , diharapkan bukan hanya terkenal akan senapan angin, tetapi juga kerajinan kayunya. (E-010) ***