Beras dan Garam Tidak Menentu

127

PEMERINTAH menargetkan, selama lima bulan dari Maret hingga Agustus, Bulog harus mampu menyerap 8,6juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah itu setara dengan 5,461 juta ton beras. Optimisme pencapaian target itu berdasarkan data, luas panen Maret – Mei 5 juta hektar sedangkan Juni – Agustus 2017 seluas 3,7 juta hektar.

Target tersebut sebetulnya sangat rendah dibanding tahun lalu. Luas panen yang lebih kecil, pada panen tahun lalu mencapai 79,1 juta ton GKG. Target Maret- Agustus tahun ini hanya sekira 12 persennya saja. Diyakini, pemerintah dalam hal ini Bulog dengan pasukan khususnya, penyerapan gabah petani (sergap) akan mudah memenuhi target itu. Namun pada kenyataannya, sampai awal Agustus 2017, menurut catatan Bulog, GKG yang terserap baru 1,63 juta ton.

Ada pergerakan yang menghambat penyerapan gabah oleh Bulog. Harga padi (GKG) di tingkat petani bertahan pada angka Rp 4.600 per-kg atau Rp 7.300 per-kg beras. Dengan demikian, pemerintah ”dipaksa” menaikkan harga pembelian. Instabilitas harga padi/beras itu ditempuh pemerintah untuk mencapai target dalam program Ketahanan Pangan Nasional.

Instabilitas harga pemebelian GKG atau beras pada satu sisi, dapat meningkatkan pendapatan petani. Pada sisi lain, anomali harga itu dapat mengganggu pasar sekali gus memberatkan konsumen. Mau tidak mau hal itu juga dapat memicu makin lemahnya daya beli masyarakat.  Masalahnya, tingginya harga beras saat ini belum tentu dinikmati para petani penggarap. Kebanyakan mereka justru  berubah menjadi konsumen \yang harus membeli beras dengan harga tinggi. Lepas panen, biasanya mereka sudah tidak punya padi lagi. Banyak di antara mereka yang menjual padinya pada saat panen bahkan padi yang dipanennya sudah bukan miliknya tetapi milik para pengijon atrau tengkulak. Para petani berdasi, pengijon, tengkulak, dan pelepas uang sajalah yang tengah menikmati tingginya harga padi/beras di tingkat hulu.