Setelah 72 Tahun Merdeka

247

BARU  saja bangsa Indonesia menyaksikan sekelompok muda-mudi dengan penuh semangat, melakukan upacara bendera. Upacara yang dilakukan tiap tahun sebagai peringatan ”Detik-detik Proklamasi” selalu membuat kita bangga. Kita masih memiliki generasi muda yang peduli terhadap proklamasi kemerdekaan RI. Banyak pula di antara kita yang tidak kuasa menahan air mata, mengenang masa-masa sulit merebut kemerdekaan. Pada layar imajiner mereka tergambar betapa para pemuda, seusia para pengerek  bendera itu, berjuang mengangkat senjata, melawan penjajah. Menyerahkan jiwa dan raga mereka hanya untuk kemerdekaan.

       ”Ambil nyawaku ke sinikan kemerdekaan!”

       ”Kusiram Ibu Pertiwi dengan darah dan air mata agar bangsa Insdonesia tumbuh

         subur di atas tanah merdeka.”

       ”Merdeka atau mati!”

dan ribuan lagi pekik merdeka yang dikumandangkan bangsa Indonesia di seluruh Tanah Air.

Tentu saja layar imajiner semacam itu tidak dimiliki sebagian bangsa ini yang lahir kemudian. Wajar saja apabila gambaran proklamasi dan perjuangan penuh darah, pertempuran yang tidak seimbang antara para pejuang dengan kaum penjajah, tidak tampak. Pada layar itu tidak tambak sama sekali, rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Betapa penduduk kota harus berjalan beratus kilometer, menuju tempat-tempat pengungsian di balik gunung tanpa bekal apa-apa, sekadar penawar lapar.

Perjuangan panjang sejak zaman Diponegoro, Hasanudin, Imam Bonjol,Teuku Umar, Tengku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, dan sebagainya yang melawan Belanda dengan mengangkat senjata, meski hanya sebentuk keris atau  rencong. Dilanjutkan dengan perjuangan politik sejak Zaman  Pergerakan, Sumpah Pemuda, perjuangan diplomatik yang kemudian harus dilanjutkan lagi dengan perlawanan fisik.

Semua rangkaian perjuangan itu sungguh tidak sia-sia. Atas ridlo Allah SWT, akhirnya Indonesia menjelma menjadi sebuah negara. Republik Indonesia lahir pada tanggal 17 Agustus 1945. Hari yang sekarang tengah kita peringati dengan penuh rasa syukur. Indonesia tidak mungkin meredeka tanpa perjuangan. Namun Indonesia tidak akan meredeka tanpa kehendak dan ridlo Tuhan Yang Mahaesa. Tugas kita sekarang, mensyukuri ridlo-Nya dan berterima kasih kepada para pejuang dengan mendoakan mereka diterima Allah SWT sebagai suhada Perjuangan para pahlawan sudah selesai. Mereka telah menghantar Tanah Air ini menjadi sebuah negara yang besar.