Makam Raden Saleh di Bogor Sempat Hilang Ditemukan Tahun 1923

239

Di tengah permukiman padat Kota Bogor,terdapat makam maestro seni lukis Indonesia yang karyanya mendunia. Makam sang maestro seakan luput dari perhatian. Kompleks Makam yang terletak di Gang Raden Saleh, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, dikelilingi pemukiman penduduk.

Di tempat tersebut hanya ada petunjuk makam Raden Saleh yang menjadi penanda keberadaan makam. Kompleks makam seluas 900 meter ini dibatasi oleh pagar besi berwarna putih.

Di bagian depan kompleks makam, terdapat dua makam, yakni Makam Raden Saleh dan istrinya, Raden Ayu Danuredjo.Lalu, di depannya terdapat prasasti besar yang terbuat dari tembok dan bertuliskan “Makam Raden Saleh Sjarif Bustaman.

Lahir di Semarang tahun 1813/1816. Wafat di Bogor tgl 23 April 1880. Kompleks makam dibangun kembali oleh pemerintah Republik Indonesia., karena sebelumnya sempat ‘hilang’ selama kurun waktu tertentu, sebelum ditemukan kembali pada tahun 1923 oleh Mas Adoeng Wirjaatmadja yang kemudian merawat tempat itu secara sukarela hingga tahun 1990-an. Isun Sunarya adalah penerus perawat makam sukarela setelah pamannya meninggal, dan baru pada 1999 ia diangkat secara resmi sebagai Juru Pelihara Situs Kompleks Makam Raden Saleh dan menda­pat gaji bulanan.

Mengapa Raden Saleh penting untuk kita teladani dan makamnya menjadi cagar budaya. Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa ningrat. Dia adalah cucu dari Sayyid Abdoellah Boestaman dari pihak ibunya. Ayahnya , Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab.

Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, tidak jauh dari Kota Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang kepada orang Belanda yang menjadi atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar Raden Saleh , mulai terlihat sewaktu bersekolah di sekolah rakyat(Volks-School).

Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia Belanda. Seorang kenalan pamannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J.

Payen yang didatangkan dari Belanda guna membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif memberikan bimbingan (Wikipedia).

Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan.

Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen me­ngusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda.

Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826), setelah ia melihat karya Raden Saleh.Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain.

Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.

Tokoh romantisme Delacroix dinilai memengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad 19, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Perancis (1844 – 1851). Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks.

Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Perancis Gerricault (1791-1824) dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketega­ngan kritis antara hidup dan mati.

Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng. Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan.(Wikipedia) Raden Saleh terutama dikenang karena lukisan historisnya, Penangkapan Pangeran Diponegoro yang menggambarkan peristiwa pengkhianatan pihak Belanda kepada Pangeran Diponegoro yang mengakhiri Perang Jawa pada 1830.

Sang Pangeran dibujuk untuk hadir di Magelang untuk membicarakan kemungkinan gencatan senjata, namun pihak Belanda tidak memenuhi jaminan keselamatannya, dan Diponegoro pun ditangkap.Pada waktu Saleh, peristiwa tersebut telah dilukis oleh pelukis Belanda Nicolaas Pieneman dan dikomisikan oleh Jenderal de Kock.

Diduga Saleh melihat lukisan Pieneman tersebut saat ia tinggal di Eropa. Seakan tidak setuju dengan gambaran Pieneman, Raden memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya; Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, Saleh dari kiri.

Sementara Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, Saleh menggambarkan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pieneman memberi judul lukisannya Penyerahan Diri Diponegoro, Saleh memberi judu Penangkapan Diponegoro. Diketahui bahwa Saleh sengaja menggambar tokoh Belanda di lukisannya dengan kepala yang sedikit terlalu besar agar tampak lebih mengerikan.

Perubahan-perubahan ini dipandang sebagai rasa nasionalisme pada diri Saleh akan tanah kelahirannya di Jawa. Hal ini juga dapat terlihat pada busana pengikut Diponegoro. Pieneman tidak pernah ke Hindia Belanda, dan karena itu ia menggambarkan pengikut Diponegoro seperti orang Arab. Gambaran Saleh cenderung lebih akurat, dengan kain batik dan blangkon yang terlihat pada beberapa figur. Saleh juga menambahkan detil menarik, ia tidak melukiskan senjata apapun pada pengikut Diponegoro, bahkan keris Diponegoro pun tidak ada.

Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadan, karena itu Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik.Setelah selesai dilukis pada 1857, Saleh mempersembahkan lukisannya kepada Raja Willem III di Den Haag. Penangkapan Pangeran Diponegoro baru berada di Indonesia pada 1978.

Lukisan tersebut merupakan perwujudan janji kebudayaan antara Indonesia-Belanda pada 1969, tentang kategori pengembalian kebudayaan milik Indonesia yang diambil, dipinjam, dan dipindahtangankan ke Belanda pada masa lampau.

Namun dari itu, lukisan Penangkapan tidak termasuk ketiga kategori tersebut, karena sejak awal Saleh memberikannya kepada Raja Belanda dan tidak pernah dimiliki Indonesia. Lukisan tersebut akhirnya diberikan sebagai hadiah dari Istana Kerajaan Belanda dan sekarang dipajang di Istana Negara, Jakarta. (E-001/bbs) ***