Gerakan Non Tunai Belum Efektif

820

Ilustrasi non tunai. KONTAN/Muradi/2014/08/21

BISNIS BANDUNG – Gerakan non tunai yang digembor-gemborkan oleh pemerintah, melalui Bank Indonesia, harus diapresiasi. Walau aplikasi dari program tersebut belum efektif, karena beberapa kendala, mulai dari infrastruktur dan aturan yang belum tegas.

Dikemukakan pakar bisnis dan manajemen Universitas Widyatama Bandung, Dr. Tezza Adriansyah Anwar, S.IP., MM ada beberapa keuntungan diberlakukannya gerakan nontunai. Antara lain, kepraktisan dan keamanan dalam bertransaksi.

Kemudian efisiensi biaya, antara biaya produksi instrumen non-tunai de­ngan biaya percetakan, peredaran serta pengelolaan uang tunai, pencatatan transaksi secara otomatis, hingga memudahkan dalam menghitung aktivitas perekonomian serta meningkatkan sirkulasi uang.

Dampak negatifnya tidak ada terutama bagi masyarakat yang sudah melek teknologi dan perkembangan terkini.

”Permasalahan mungkin muncul dari masyarakat yang belum paham teknologi dan perkembangan terkini,” ucap Tezza. Misalnya, orang yang sudah terbiasa menggunakan uang tunai karena merasa ribet dengan non-tunai karena harus menghapal nomor PIN atau menggunakan aplikasi tertentu yang menurut mereka tidak praktis.

”Industri telah menyediakan berbagai instrumen non-tunai , seperti uang elektronik dalam bentuk kartu (Chip bases) maupun berbasis server dalam telepon genggam (server based), “ tutur Tezza, Selasa (22/8/17) kepada BB di Bandung.

Lebih lanjut dikemukakan Tezza, untuk sektor usaha yang sudah mengaplikasikan gerakan non-tunai, di antaranya sektor transportasi publik seperti busway, kereta commuter, jalan tol, sektor perbankan, pajak , biaya parkir, retribusi pasar dan sektor pendidikan.

Sektor mikro
Sektor yang masih mengalami kendala menggunakan nontunai , adalah sektor yang masih mikro, seperti di pasar tradisional , masih sulit menggunakan non-tunai karena tidak terbiasa, selain belum ada infrastruktur yang mendukung.

Gerakan ini dapat menguntungkan perekonomian, karena setiap transaksi dicatat secara otomatis dapat memudahkan dalam penghitungan aktivitas ekonomi.Juga dapat mencegah terjadinya underground economy yang umumnya dilakukan dalam bentuk tunai.

Karena berbentuk non-tunai, akan mampu meminimalisasi peredaran uang palsu yang relatif lebih mudah dipalsukan. Tezza memaparkan, ada beberapa negara yang telah memberlakukan transaksi non-tunai, di antaranya Belgia.

Di negara ini, volume pembayaran non-tunai mencapai 93% dari nilai total transaksi yang dilakukan oleh masyarakat dalam keseharian.

Selanjutnya Perancis, di negara ini, volume pembayaran non-tunai mencapai 92% dari nilai total transaksi masyarakat. Kanada, volume pembayaran non-tunai mencapai 90%.

Menurutnya, untuk optimalisasi dan efektif perlu ada peraturan yang tegas terkait dengan pelaksanaan transaksi non-tunai. Disebutkan Tezza, di beberapa negara yang telah efektif melaksanakannya, terdapat sanksi denda yang tinggi jika tidak menggunakan transaksi non-tunai. (E-018)***