Optimasi Industri Kreatif Berbasis Teknologi

100

INDUSTRI kreatif di Indonesia terus tumbuh subur sejak era reformasi dimulai. Hal ini terkait dengan keleluasaan para pelaku untuk memproduksi produk andalannya. Bahkan, saat ini industri kreatif menjadi salah satu komodias utama penyumbang pendapatan suatu negara. Sebab, industri kreatif itu menjanjikan keuntungan yang tidak sedikit.

Negara, seperti Amerika, Korea Selatan, maupun Jepang, patut menjadi contoh bagaimana mereka menggarap industri kreatifnya menjadi komoditas paling berpengaruh di dunia. Melalui budaya yang dikemas dalam film maupun musik, ketiga negara tersebut mampu menularkan budaya sehingga menjelma sebagai trendsetter bagi masyarakat dunia.

Di Indonesia, sektor industri kreatif mampu menjadi perhatian dengan sumbangan produk domestik bruto (PDB) yang cukup besar. Selain itu, pertumbuhan industri ini juga relatif stabil. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tahun 2016 lalu, industri kreatif telah menyumbang sebesar 7,05 persen pada PDB nasional. Nilai tambah ekonomi kreatif tahun itu mencapai Rp 641 triliun.

Sumbangan ekonomi kreatif pada PDB nasional memang di kisaran 7,13 persen dengan rata-rata nilai tambah sekitar Rp 555 triliun. Setiap tahun ekonomi kreatif di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 5,09 persen. Dilihat dari kontribusi tenaga kerja, tahun 2016 lalu sektor ekonomi kreatif mampu menarik pekerja 11,8 juta orang, tumbuh sekitar 0,62 dari tahun sebelumnya sebanyak 11,7 juta.

Tingkat partisipasi tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif juga menyumbang 10,72 persen pada 2016. Rata-rata tiap tahun tingkat partisipasi tenaga kerja ekonomi kreatif sebesar 10,65 persen dari seluruh ketenagakerjaan nasional. Jika dilihat dari pertumbuhan jumlah perusahaan ekonomi kreatif, tahun 2016 lalu tumbuh sekitar 0,41 persen, yaitu 5,42 juta dibanding tahun sebelumnya 5,39 juta perusahaan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan sektor ekonomi kreatif di Indonesia dapat memberi kontribusi delapan hingga sembilan persen pada PDB nasional. Sedangkan, tingkat partisipasi tenaga kerja ditarget mencapai 11 hingga 12 persen dari total tenaga kerja nasional. Langkah yang dirumuskan pemerintah untuk mengejar target tersebut, yakni membuat roadmap strategi pengembangan subsektor ekonomi kreatif 2015 hingga 2019 yang berbasis pada teknologi, kreativitas dan kelembagaan.

Ada tujuh isu strategis yang menjadi potensi maupun tantangan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Yaitu, ketersediaan SDM kreatif yang profesional dan kompetitif, ketersediaan SDA dan sumber daya budaya yang dapat diakses secara mudah, industri yang berdaya saing dan beragam, pembiayaan yang mudah diakses, perluasan pasar, infrastruktur dan teknologi, serta kelembagaan yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif.

Isu ini harus digarap bukan hanya oleh satu kementerian saja, melainkan oleh seluruh pemangku kepentingan. Artinya, dibutuhkan sinergitas agar dapat bersama mengembangkan sektor industri kreatif nasional yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi. (C-003/bbs)***