Pemprov Waspadai Penyakit Menjangkiti Hewan Kurban

422

BISNIS BANDUNG- Pemprov Jabar hingga kini mewaspadai ancaman penyebaran penyakit yang menjangkiti hewan kurban seperti anthrax dan penyakit menular lainnya dari hewan ke manusia.

“Kami pantau peredaran hewan kurban sakit, terutama yang terpapar anthrax dan penyakit menular lainnya,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat Dewi Sartika usai melepas Tim Pemeriksa Kesehatan Hewan Kurban di Gedung Pakuan Kota Bandung, Selasa pekan ini.

Ia menuturkan jajarannya berupaya me¬≠ngantisipasi penyebaran penyakit hewan kurban di seluruh daerah Jabar dengan menerjunkan tim pemeriksa hewan kurban. Tim akan memeriksa seluruh kesehatan termasuk fisik dan kelayakan hewan kurban seperti sapi, domba, maupun kambing yang dijual kepada masyarakat. “Kita harus memastikan hewan kurban yang dijual itu sehat, sebelum masyarakat membelinya,” katanya.

Selain menerjunkan tim kesehatan hewan khusus dari Provinsi Jabar, pemerintah kota/kabupaten di Jabar juga menyiapkan tim untuk memeriksa kesehatan hewan. “Mereka yang diterjunkan ke lapangan telah dilatih tiga hingga empat hari untuk menguasai teknis pemeriksaan hewan kurban,” katanya.

Ia berharap pemeriksaan kesehatan hewan kurban sebelum pelaksanaan penyembelihan pada Idul Adha 1438 Hijriyah dapat terhindar dari berbagai ancaman penyakit yang menyerang hewan kurban.

“Setiap kabupaten/kota ada 50-60 orang petugas, jadi cukup banyak untuk memeriksa hewan kurban,” katanya. Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jabar menyiapkan 200 petugas kesehatan hewan yang secara resmi dilepas oleh Gubernur Jabar untuk bertugas di setiap kota/kabupaten di Jabar.

Penyebaran tim kesehatan hewan itu rutin dilakukan Pemerintah Provinsi Jabar setiap menjelang Idul Adha untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam mengonsumsi daging kurban.

Selain itu, terus diperketat jalur masuk pendistribusian hewan kurban di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jakarta menjelang Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriyah. “Kita melakukan pengecekan di jalur-jalur distribusi hewan kurban, seperti di Banjar dan Gunung Sindur,” katanya.

Jalur pendistribusian hewan kurban dari luar daerah itu akan terus diawasi kemudian dilakukan pemeriksaan setiap kendaraan yang membawa hewan kurban. Jika pendistribusian hewan kurban tidak dilengkapi surat yang diterbitkan dari pemerintah daerah asal, kata dia, maka hewan tersebut dilarang masuk ke Jabar. “Kita ketat sekali, kalau tidak ada surat kelayakan dari kabupaten/kota asalnya kita tidak perbolehkan masuk,” katanya.

Ia menyampaikan, upaya pemeriksaan di jalur distribusi perbatasan daerah itu karena Jabar masih mendatangkan hewan kurban dari luar daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan daerah lainnya di Indonesia.

Ia memprediksi kebutuhan hewan kurban pada Idul Adha 1438 Hijriyah di Jawa Barat terjadi peningkatan sekitar 5 hingga 10 persen atau sekitar 806 ribuan ekor. “Estimasi hewan kurban di Jabar itu kurang lebih sekitar 806 ribu sekian,” katanya. Ia menambahkan, penjagaan di jalur perbatasan Jabar itu sebagai upaya mencegah masuknya hewan kurban tidak sehat atau tidak layak untuk dikurbankan. (B-002)***