Fungsi Balawista Belum Ditunjang Infrastruktur Memadai

630

Indonesia merupakan negara kepulauan. Lautan negeri ini sa­ngat luas dengan hasil perikanan yang melimpah. Jajaran kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke dengan lautan luas memiliki potensi perikanan serta kekayaan laut lainnya, sejak zaman nenek moyang dimanfaatkan oleh mayoritas bangsa Indonesia.

Selain potensi perikanan, juga potensi wisata bahari, berbagai kegiatan yang dilakukan di lautan, seperti olahraga memancing, menyelam, selancar, bermain jetski serta lainnya. Selain kegiatan bermain di pesisir pantai hingga berinteraksi dengan ombak termasuk ke dalam kegiatan wisata bahari.

Kegiatan apapun yang dilakukan di alam bebas pasti mengundang risiko bagi para pelakunya termasuk kegiatan wisata bahari. Di Jawa Barat mayoritas wisata bahari terpusat di sepanjang pantai selatan, seperti di wilayah Pa­ngandaran dan Pelabuan Ratu Sukabumi.

Kecelakaan para pengunjung di wilayah pantai selatan kerap terjadi setiap tahun. Umumnya kecelakaan yang menimpa pengunjung di pesisir pantai akibat tidak waspada pada tanda – tanda alam.

Kasus paling sering ialah tenggelam dan terbawa arus hingga ke tengah lautan. Bercermin dari berbagai kecelakaan di laut, pada tahun 1995 di Pa­ngandaran dibentuk Balawista ( badan penyelamat wisata tirta ).

Balawisata Pangandaran pertama dilatih oleh Balawista Badung Bali be­kerjasama dengan Menparpostel dan Kementrian Tenaga Kerja Indonesia. Hingga saat ini keberadaan Balawista di Pangandaran maupun Palabuan Ratu memiliki fungsi vital dalam pengamanan pengunjung dari risiko kecelakaan di objek wisata pantai.

Balawista adalah Badan Penyelamat Wisata Tirta yang mempunyai tugas sebagai pengawas/pemantau dan penjagaan kepada para pengunjung/wisatawan yang melakukan kegiatan wisata bahari, melakukan tindakan preventife (pencegahan) dan refresif (setelahkejadian) dengan pencarian korban yang tenggelam serta memberikan informasi tentang daerah aman untuk berenang dan daerah di larang berenang.

Semua anggota Balawista telah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang penyelamatan di pantai dan tiga anggota Balawista telah mendapatkan sertifikat Instruktur di Bali, dengan standar ILS / Internasional Life Saving Australia.

Selain menekan angka kecelakaan di pantai dan sekitarnya dengan cara memberikan pengawasan, himbauan dan pertolongan terhadap para pengunjung/wisatawan, anggota Lifeguard Balawista dituntut pula untuk dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengunjung/wisatawan sehingga akan membantu pula dalam promosi wisata yang pada akhirnya tingkat kunjungan wisatawan ke pantai.

Beberapa kekurangan masih dirasakan oleh institusi Balawista,terutama infrastruktur pendukung baik itu sarana latihan maupun markas komando sesuai standar internasional.
Meskipun masih ada kekurangan namun hal ini tidak mengurangi sikap profesionalitas para anggota Balawista dalam menjalankan tugasnya melindungi para pelancong di pantai yang mereka jaga. (E-003)***