Dr.Ir.Dewi Sartika M.Si., Bertugas di Fungsi Berbeda Penempa Kemandirian

143

Kelahiran Bandung, 22 Januari 1963, Dr.Ir.Dewi Sartika M.Si. kini menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat.

Istri dari Ir. Ismet Mahendra (55 tahun) ini, awal kiprahnya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), dirintisnya setelah ia bekerja di salah satu perusahaan swasta, dan kemudian ikut tes penerimaan PNS. Dewi tertarik menjadi ASN/PNS, karena peluang untuk meneruskan sekolah menjadi lebih terbuka.

“Orang tua sayapun menyarankan untuk bisa bekerja di kota yang sama. Karena saat bekerja di perusahaan swasta, saya banyak ditugaskan di luar kota,” tutur Dewi tentang awal kiprahnya menjadi Aparatur Sipil Negara. Kali pertama bertugas sebagai ASN, Dewi ditugaskan di Dinas Peternakan Cianjur. Dan hingga saat ini, ia sudah 31 tahun mengabdi sebagaiASN.

Dalam rentang waktu selama itu, Dewi sempat bertugas menjadi KTU di Dinas Peternakan Provinsi, kemudian ia menjadi Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat selama 3 tahun, dan menjadi Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana selama 19 bulan.

Sejak tanggal 28 Juli 2017, Dewi diberi amanah untuk menjadi Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat. Semua pe­nempatan memiliki penyesuaian dan dinamika yang berbeda, tapi yang pasti, semangat untuk berbuat yang terbaik itu akan mendorong niatnya untuk terus belajar. Menurut Dewi, kita harus mampu ditempatkan di mana saja, hingga membuat diri kita lebih mandiri, serta akan terus memacu daya juang.

Ibu dari M. Ilham Mahendra dan Avinindita Nura Lestari ini, selama puluhan tahun menjadi ASN, berhasil memperoleh beberapa penghargaan atas prestasinya, di antaranya adalah, Penghargaan Pengabdian 30 tahun dari Presiden, saat Badan Ketahanan Pangan mampu mengantarkan Gubernur menerima APN atau Adhikarya Pangan Nusantara selama 3 kali berturut-turut. Ia juga mendapat Peniti Mas. Kemudian Dewi mendapat penghargaan untuk Web Terbaik di Jawa Barat Tahun 2015. Di BP3AKB, ia juga mendapat Anugrah Parahita Ekapraya sebagai Mentor pada tahun 2016.

Untuk jabatannya saat ini sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, semuanya tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya, yang turut andil dalam mendukung dan menyokong kapasitas dan kapabilitasnya. Sedangkan pengetahuan yang berkaitan de­ngan ketahanan pangan dan peternakan, selain didapat Dewi dari disiplin ilmu yang dimiliki, juga diperolehnya dari berbagai sumber, termasuk dari para pimpinan terdahulu, serta petani yang tergabung di KTNA.

Menyinggung kondisi peternakan di Jawa Barat saat ini, beberapa komoditi mampu menjadi andalan Jawa Barat, seperti ayam pedaging.  Namun disisi lain, kebutuhan daging sapi, telur dan susu masih didatangkan antar pulau atau impor. Inilah yang menjadi tugas sekaligus tantangan bagi Dewi, yakni bagaimana Jawa Barat bisa memperkecil persentase pemenuhan kebutuhan komoditas impor.

“Kita harus terus berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas ternak secara berkelanjutan. Potensi Jawa Barat sangat luar biasa, selain keberagaman yang dimiliki, juga pusat-pusat teknologi banyak berlokasi di Jabar. Potensi sumber protein hewani Jawa Barat yang jumlah populasinya tertinggi secara nasional, adalah ternak domba. Namun salah satu tantangannya adalah, jumlah populasi ternak domba yang tinggi tidak diikuti dengan konsumsi daging domba yang tinggi. Preferensi konsumen terhadap daging domba hanya 2%. Potensi lainnya adalah unggas lokal, di antaranya ayam Sentul. Untuk itu, program yang memungkinkan bagi Jawa Barat adalah swasembada protein hewani. Selain potensi populasi domba dan unggas, sumbangan susu sapi terhadap nasional cukup tinggi. Demikian pula terhadap potensi daging sapi harus terus menerus ditingkatkan,” demikian penjelasan Dewi kepada BB di Bandung.

Di sisi lain, kendala Jawa Barat dalam menuju ketahanan pangan (swasembada) adalah, skala usaha pertanian / peternakan masih sangat kecil, termasuk kepemilikan lahan. Ditambah lahan untuk budidaya yang juga semakin mengecil. Angka kemiskinan di Jawa Barat relatif masih tinggi, sementara dari aspek SDM masih banyak pelaku usaha pertanian / peternakan yang pendidikannya masih rendah. (E-018)***