Memilah Saham Murah Saat Indeks Tinggi

53

PEKAN lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat dua kali menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah. Otomatis, harga sebagian saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga meroket makin tinggi.

Di saat yang sama, price earning ratio (PER) IHSG terbilang cukup mahal dibandingkan indeks bursa regional, yakni 17,99 kali. Angka ini di atas PER indeks Nikkei di posisi 16,99 kali. Bahkan jauh di atas PER indeks Kospi yang hanya 11,41 kali dan indeks Straits Times 11,64 kali.

Meski indeks saham sudah mahal, sejumlah analis menyebutkan masih ada beberapa saham yang masih terbilang murah dan layak dicermati. Analis Royal Investium Sekuritas Wijen Pontus berpendapat, sektor konstruksi masih menarik. “Saham di sektor ini tergolong undervalued karena memiliki kinerja yang bagus, namun belum bergerak naik,” ungkap dia Ahad (27/8).

Saham seperti PTPP, WIKA dan ADHI, dipandang masih memiliki potensi naik dalam jangka panjang. Hal ini didorong upaya pemerintah yang terus menggenjot proyek infrastruktur.

Stimulus dari pemerintah berefek positif ke saham sektor konstruksi, khususnya emiten pelat merah. Wijen menyarankan investor menjadikan saham tersebut sebagai alternatif investasi jangka panjang.

Selain konstruksi, saham sektor properti bisa masuk keranjang investasi. Penurunan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate jadi 4,5% turut mendorong prospek bisnis properti.

Tapi masih perlu waktu lama bagi saham properti untuk bisa menanjak. “Sepertinya pada 2018 hingga 2019 saham properti bisa naik lagi karena didukung stimulus bunga kredit, dimulainya proyek properti besar dan hadirnya beberapa proyek infrastruktur,” papar Wijen, yang menyarankan SMRA, CTRA dan BKSL.

Sektor agribisnis pun memiliki prospek baik. Menjelang akhir tahun, pasar mengantisipasi kenaikan CPO. “Saham seperti AALI dan LSIP bisa menguat pada tahun ini,” tutur Wijen.

Sentimen negatif

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee juga menyebutkan harga saham emiten konstruksi masih bisa naik. Saham yang masuk pilihan Investa adalah WIKA, WSKT dan PTPP. Pencapaian order book bagus, kata dia.

Sentimen yang kelak membayangi harga saham konstruksi antara lain kebijakan pemerintah soal pajak dan pemotongan anggaran. Hans merekomendasikan buy WIKA dengan target Rp 2.900 per saham, WSKT Rp 2.900 dan PTPP senilai Rp 4.300.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada menilai, ada beberapa saham second liner yang harganya masih murah, namun masih memiliki potensi kenaikan cukup baik. Contohnya saham PNLF dan INKP. “Harga kedua saham ini masih murah, namun prospek usaha mereka cukup baik,” ujar Reza.

Nilai price earning ratio (PER) saham PNLF masih tergolong rendah dibandingkan saham lain yang berada di sektor keuangan. Mengutip data RTI, PER PNLF masih di angka 4,78 kali. Adapun Bloomberg mencatat, PER PNLF di posisi 4,54 kali.

Untuk INKP, Reza melihat, bisnisnya memiliki ruang untuk terus bertumbuh. “Melihat ruang lingkup bisnis yang mereka miliki, harga sahamnya masih tergolong rendah dibandingkan beberapa perusahaan pulp & paper lainnya,” papar dia.

Pada Jumat (25/8) lalu, harga INKP di posisi Rp 2.930 per saham. RTI mencatat, INKP memiliki 3,52 kali, sementara versi Bloomberg sebesar 3,66 kali. Sedangkan PER TKIM di posisi 40 kali dan FASW membukukan PER sebesar 32,7 kali.

Reza merekomendasikan buy PNLF dan INKP dengan target masing-masing Rp 273-Rp 281 per saham dan Rp 3.282-Rp 3.369 per saham. (C-003)***