Hok dan Persaingan Usaha

58

TEKNOLOGI selalu lahir dengan dua sisi, putih dan hitam atau positif-negatif. Kehadiran internet beserta turunannya sungguh memperjelas paradigma tersebut. Kehadiran intetrnet dalam kehiduoan modern amat sangat bermanfaat.Komunuikasi antar-manusia, antar-kelompok, antar-individu, bahkan antar-negara, terjalin tanpa kesulitan akibat ruang dan waktu. Secara maya hubungan antarmanusia hampir tanpa jarak sama sekali.

Penggunaan media sosial—sebagai turunan internet—serta-merta dapat mengubah  budaya dan perilaku manusia. Medsos sudah merupakan bagian dari kehidupan manusia, bahkan sudah menjadi anggota atau organ tubuh. Tanpa medsos, seolah-olah manusia kehilangan salah satju organ tubuhnya. Komuniaksi yang tadinya punya jarak tempuh, kebutuhan fisik, alat transportasi, dan ongkos, sekarang sebagian besar kebutuhan komunuikasi itu terpangkas.Berdagang tidak harus punya kios, lapak, atau los. Berpromosi tidak harus melalui selebaran, iklan, promosi dalam dan luar ruang, media cetak dan media elektronik. Koran, televise, danm radio kini sudah menjadi kebutuhan nomor sekunder, kuarter bahkan makin tidak dibutuhkan lagi.

Profesi sebagai jurnalis, kolportir, atau pengelola media massa arus utama (mainstream), semakin tidak jelas.Setiap perusahaan dapat mempromosikan usahanya langsung hanya dengan mempermainkan  jempolnya. Setiap orang, siapa saja, dapat menjadi wartawan atau jurnalis. Sekarang orang dapat membuat berita  dan memuatnya pada medsos. Sudah cukup lama kita mengenal istilah  citizen-journalism. Orang di jalanan dapat membuat berita tentang apa saja yang ia lihat dan ia pikirkan. Berita yang ditulis wartawan jalanan itu memiliki pembaca yang cukup banyak. Sebuah berita yang dimuat pada medsos, tanpa diteliti benar atau tidaknya, dalam waktu hanya beberapa menit saja sudah viral.

Salah satu sisi negatif berhala baru berupa medsos itu kini sedang benar-benar menggejala yakni tersebarnya berita bohong atau hok (hoax). Masih banyak lagi sisi buruk munculnya teknologi baru itu. Amat sering kita mendengar kejahatan berupa penipuan, pemerkosaan, pembegalan, dan sebagainya, yang proses awalnya melalui medsos. Berita menyudutkan seseorang, tendensius, bahkan provikatif, melalui medsos,  sudah menjadi hal biasa di negeri  ini. Perseteruan antarslebritas terjadi setiap saat akibat keisengannya menulis sisi negatif selebriti lain. Sering pula peseteruan di medsos itu berlanjut ke pengadilan. Baru-baru ini, diberitakan orang pada medsos, Waprers Jusduf Kalla menderita sakit keras. Ternyata JK masih segar bugar dan seperti biasa, berkantor di Istana Wapres. Persaingan antar-penggusaha sering memunculkan berita medsos bernada saling menjatuhkan. Persaingan tidak sehat bahkan killing-competition mudah dibuat di medsos katrena jurnalistik medsos tidak mengenal kode etik.

Berita bohong yang tersebar di kalangan orang-orang yang tidak memiliki kepekaan berita (news intuitive) akan mudah meluas. Mereka beranggapan justru berita seperti itulah yang benar, bukan berita yang dipoles terlebih dahulu kemudian dimuat di suratkabar atau media elektronik. Mereka beranggapan berita yang dimuat media mainstream penuh rekayasa demi kepentingan finansial dan politik. Berita yang diberi kode onder cover sering kali membuat orang begitu yakin akan kebenarannya. Penyebar berita onder cover sering dianggap pahlawan, ditektif atau spion handal. Banyak yang tidak engeuh, berita-berita pada medsos seperti itu, merupakan berita bohong dengan tujuan menjatuhkan nama dan kehormatan objek berita.