Nasib Gula Lokal

49

DI tengah gonjang-ganjingnya harga gula di pasar domestik, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengeluarkanm maklumat, produksi gula beberapa pabrik di Cirebon, tidak layak edar. Menteri tidak menyebutkan jumlah gula yang dilarang dijual itu. Ia hanya menyebutkan gula hasil penggilingan Pabrik Gula Sindanglaut dan Pabrik Gula Terasana Baru, tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut Menteri Enggartiasto, penyegelan gula itu berdasarkan uji laboratorium. Ternyata gula produksi kedua pabrik itu tidak sesuai dengan standar International Commission for Uniform Methods of Sugar Analiysis (ICUMSA).   Angka tingkat kemurniannya berada pada titik lebih dari 300 padahal standar internasional menetapkan angka 300 itu sebagai angka tertinggi batas kemurnian gula. Menteri juga tidak merinci apa dampak negatif gula itu apabila dikonsumsi masyarakat.

Namun di luar masalah penyegelan itu, Bulog melakukan MoU dengan beberapa pabrik gula di Jawa Barat. Bulog membeli gula milik petani tebu yang tergabung ke dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia. Perjanjian itu memuat kesepakatan Bulog akan membeli 6.000 ton gula dengan harga Rp 9.700/kg. Menurut Kepala Bulog Jabar, Bulog tidak membeli gula yang disegel Kementrian Perdagangan. Namun alasannya bukan karena gula itu tidak sesuai standar internasional tetapi Bulog dan pabrik tidak sepakat atas harga yang ditetapkan pemerintah.

Hal itulah yang kemudian menimbulkan pertanyaan, khusunya di kalangan petani tebu yang tergabung dalam Andalan Petani Tebu Rakyat. Mereka merasa mendapat perlakuan yang kurang adil, baik dari Kementrian Perdagangan maupun dari Bulog Jabar. Gula hasil produksi pabrik gula itu tiba-tiba saja dinyataklan tidak sesuai dengan SNI padahal kedua pabrik itu bukan baru sekarang melakukan penggilingan tebu. Setiap musim giling, gula milik petani Andalan itu selalu dibeli Bulog dan dapat beredar di pasar domestik.