Dermaga Santolo Garut Selatan, Tempat Mengapalkan Hasil Bumi

51

Jejak peninggalan kolonialisme banyak tersebar di pelosok negeri ini. Selama ratusan tahun berada di wilayah nusantara , penjajah bukan hanya mengeruk kekayaan alam saja namun meninggalkan berbagai bangunan .

Bangunan dalam berbagai bentuk. mulai dari gedung,gudang,benteng,pelabuhan hingga gua gua pertahanan. Salah satu peninggalan kolonial ini terdapat di Garut Selatan,tepatnya di kawasan pantai Cilauteureun atau populer dengan sebutan pantai Santolo. Pada masa lalu pemerintah kolonial Belanda mengeruk kekayaan alam dari bumi nusantara,salah satu komoditas paling diincar adalah rempah – rempah, karena komoditas ini sa­ngat mahal di pasaran Eropa.

Bahkan pemerintah kolonial Belanda menjadi sangat kaya dari komoditis rempah yang banyak ditemukan di kawasan timur Indonesia.Pada masa penjajahan Belanda wilayah Jawa Barat terkenal akan komoditas perkebunan, seperti karet,teh, dan kopi. Selain komoditas tersebut , di Jawa Barat terdapat berbagai hasil alam lainnya di antaranya kelapa.

Untuk mendistribusikan hasil bumi dari daerah pedalaman Priangan Timur , mulai dari daerah Garut,Tasikmalaya,Sumedang,Ciamis hingga Pa­ngandaran pemerintah kolonial membangun jalur transportasi.  Mulai dari kereta api hingga jalan raya yang menghubungkan daerah pedalaman dengan pusat kota.Hingga saat ini jalur transportasi ini masih bisa kita nikmati terutama jalur kereta api.

Dari berbagai daerah pedalaman tersebut hasil alam didistribusikan ke wilayah Cilauteureun untuk dikapalkan menuju Eropa.Atas hal inilah maka pemerintah kolonial membangun sebuah dermaga berlabuh kapal pengangkut hasil bumi. Berdasarkan penelusuran sejarah, dermaga Santolo dibangun pada rentang 1910-1913 sebagai jalur pembantu pengangkutan distribusi rempah dari Priangan Timur.

Santolo juga dikenal dalam sejarah dunia.Dari literatur buku terbitan Eropa, keberadan Pelabuhan Santolo masih tercatat penting. Dermaga sekecil itu, mampu menampung 50 perahu berkapasitas angkut hingga mencapai beban lima ton.

Kontur alam yang penuh dengan karang di Cilauteureun menyebabkan kapal- kapal lintas samudera tidak bisa merapat, karena itu hanya kapal -kapal kecil dengan beban angkut sampai 5 ton disiagakan di dermaga Cilautereun untuk membawa hasil bumi ke tengah laut tempat kapal – kapal lintas samudera berlabuh. Aktivitas distribusi kekayaaan alam Jawa Barat menuju Eropa ini masih berlangsung ramai hingga tahan 1930-an.

Belanda sangat terkenal dengan teknologi rancang bangunnya,maka tidak mengherankan bangunan dermaga bekas berlabuhnyal kapal, masih bisa kita lihat sampai sekarang.
Namun sayang akibat oknum tidak bertanggung jawab banyak komponen dermaga yang di curi.Dermaga tua di Cilauteureun , kini hanya tinggal bekasnya saja,sudah tidak difungsikan .

Rancang bangunan unik tersebut menjadi objek foto wajib para pelancong ke kawasan selatan Garut.Para pelancong merasa tidak lengkap rasanya apabila berkunjung ke kawasan selatan Garut namun tidak berswafoto dengan latar dermaga tua Cilauteureun.

Peran pemerintah dalam menjaga kelestarian benda cagar budaya tersebut mutlak diperlukan,hal ini untuk mencegah oknum tidak bertanggung jawab merusak bangunan .Selain sebagai objek foto, bangunan ini bisa menjadi bahan pengetahuan sejarah . (E-001) ***