Dra. Rosani Pudjiati, M.Pd., “Jika Kita Ingin Hidup Tenteram dan Damai, Sebaiknya Tangan Kita Selalu Ada di Atas”

63

Dra. Rosani Pudjiati, M.Pd., lahir di Malang 31 Juli 1960 silam. Anak dari R. Roeslan Noto Asmoro (Alm) ini, selain menjabat sebagai Guru SMA Negeri 15 Bandung, juga merupakan pengelola/pendiri Sekolah Non-formal PKBM Bina Bangsa Berkarakter.

Istri dari Tri Iswahyudi (59) ini mengemukakan, awalnya ia tertarik untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa alias guru adalah karena pe­ngaruh lingkungan. Untuk mencapai cita-cita tersebut, setelah lulus SMA, Rosani mengikuti tes ke IKIP jurusan Bahasa Indonesia, dan diterima di D-3. Sambil kuliah, ia mengajar di STM Brawijaya Batu Malang.

Lulus D-3, Rosani langsung ditempatkan mengajar di SMA Negeri Bangil (1984), kemudian tahun 1997 pindah ke SMA 5 Malang, dan pada tahun 2001 pindah ke Bandung mengikuti suaminya yang bertugas di TNI AU Husein Sastranegara, sampai akhirnya ia mengajar di SMA 15 Bandung.

Hingga kini, Rosani mengajar sudah kurang lebih selama 31 tahun. Salah satu penghargaan yang telah diraihnya adalah mendapat Penghargaan Pengabdian menjadi guru 30 tahun. “Pengalaman positif selama menjadi guru adalah, bisa mendidik dan mencerdaskan anak bangsa hingga meraih cita-citanya. Pengalaman negatif selama menjadi guru, tidak ada.

Kalau ditanya sampai kapan akan menjadi guru, jawabnya, hingga ajal menjemput, ungkapnya kepada BB. Ibu dari Restu Ardhya Wahyuningsih (22) ini, selain menjadi guru, ia juga mendirikan sekolah non-formal bernama PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Bina Bangsa Berkarakter, yaitu sekolah non-formal yang didirikan secara mandiri dengan keluarga sejak tahun 2012 silam.

Letaknya di RT 02, RW 03 Desa Padaasih, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Sekolah non-formal tersebut tidak memungut biaya (gratis). “Sumber pendiriannya berasal dari dana mandiri, yakni gaji suami, gaji saya dan gaji anak, serta BOP pemerintah,” klaimnya.  Dikemukakan pula oleh Rosani bahwa, siswa didiknya terdiri atas beragam jenjang, yakni PAUD, yang siswanya berusia 3-6 tahun, juga Rumah Pintar yang siswanya di usia PAUD sampai usia SMP.

Siswa yang mengikuti paket A adalah siswa putus sekolah, atau orang-orang yang belum mempunyai ijazah SD. Sedangkan untuk paket B, terdiri atas anak-anak putus sekolah dan orang-orang yang tidak punya ijazah SMP.  Paket C ditujukan bagi anak-anak yang putus sekolah dan orang-orang yang tidak mempunyai ijazah SMA, sedangkan PKH-P (Pendidikan Kecakapan Hidup Perempuan) adalah, untuk ibu-ibu dari golongan ekonomi lemah yang perlu diberdayakan.

Tenaga pendidiknya adalah orang-orang yang peduli pada sesama, dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, di antaranya guru, tentara, mahasiswa UPI dan STKIP, serta sarjana kesehatan maupun sarjana sosial. ”Mereka saya beri diklat kurikulum KTSP, dan yang sudah profesional, terutama yang berlatar belakang guru, mendapat sertifikasi”, ungkap penganut moto hidup ‘jika kita ingin hidup tenteram dan damai, sebaiknya tangan kita selalu ada di atas’ ini kepada BB.

Masyarakat Kampung Cilimus, kurang memotivasi anaknya untuk sekolah, sebab mereka masih menganggap sekolah itu tidak penting. Dampaknya, di sana banyak terjadi pernikahan usia dini dan mengalami kesulitan ekonomi. Saat itulah mereka baru sadar, bahwa pendidikan itu penting dan perlu ijazah, sehingga mereka baru“mau sekolah. “70 persen siswa yang belajar di sekolah saya berasal dari luar desa. Jadi, masih banyak anak usia sekolah yang tidak mau bersekolah, dan lembaga kami juga terus menerus mengimbau mereka untuk mau sekolah, ” tutur Rosani.

Sejak awal berdirinya lembaga PKBM ini, banyak warga peserta belajar yang sudah lulus bisa langsung bekerja, karena lembaga PKBM menjalin hubungan dengan penyalur tenaga kerja.
Di sisi lain, masih banyak juga warga usia sekolah yang belum ingin belajar, dengan alasan mereka bekerja membantu orang tuanya. Kendala yang dihadapi adalah, belum adanya bantuan RKB, sehingga fasilitas belum lengkap, terutama komputer, karena siswa paket B dan C harus UNBK melalui komputer. Lembaga belum memiliki secara memadai sarana yang menjadi kebutuhan warga untuk belajar. Anggaran operasional untuk biaya transpor guru juga masih di bawah standar.

”Perhatian pemerintah daerah dan pusat sudah cukup baik, yakni dengan membantu penyaluran BOP, meski belum ke semua jenjang. ”Harapan ke depan adalah, pemerintah sewajarnya membantu biaya operasional dalam bentuk BOP, maupun jenis bantuan lain seperti sarana dan prasarana serta RKB, karena lembaga kami adalah lembaga mandiri masyarakat yang membantu pemerintah untuk mencerdaskan rakyat,” demikian Rosani menjelaskan. Program jangka pendek dari lembaga PKBM ini adalah, mengajak, mengimbau dan menuntaskan masyarakat usia sekolah yang putus sekolah untuk mau belajar, hingga semua bisa mempunyai ijazah terakhir setara SMA.

Juga memberi bekal pelatihan di bidang IT, yang selalu dibutuhkan dalam dunia kerja, serta pembelajaran bahasa Inggris untuk semua jenjang, khususnya percakapan dalam bahasa Inggris. Program jangka panjang lembaga PKBM adalah, memajukan Kampung Cilimus lewat pendidikan IT menjadikan kampung Inggris.  Warganya juga mampu mempunyai jiwa yang tangguh, serta mempunyai etos kerja yang tinggi, agar berguna di dunia kerja atau PT,” pungkas penggemar warna merah ini kepada BB. (E-018)**