Meike Paryatika, SI. Kom., Setelah Melahirkan Bergiat Berjualan Online Scarf

56

Anak pasangan Temmy dan Rini ini, merupakan pengusaha scarf di Kota Bandung dengan omset ratusan juta rupiah. Produknya tidak hanya di pasarkan di dunia maya, tapi juga di sejumlah pusat perbelanjaan.

Meike Paryatika SI. Kom., kelahiran Bandung 18 Mei 1987 dan istri dari Nadzmy Salim ini, mulai tertarik pada dunia usaha sudah sejak duduk di bangku kuliah. Awalnya, ia hanya menjual barang-barang temannya, seperti tas, baju, sepatu dan lain-lain.

Maklum, saat itu ia masih kuliah, dan belum memiliki modal khusus. Setelah lulus kuliah, Meike Paryatika sempat kerja di salah satu provider besar selama 4 tahun, kemudian ia mengundurkan diri.  ”Setelah melahirkan, bosan diam di rumah, saya giat berjualan online, waktu itu sekitar tahun 2013-2014, dan belum ada medsos instagram. Saya berjualan hanya di bbm dan fb saja.

Sampai tahun 2015, saya belum stock barang dan hanya mengerjakan pesanan dari teman-teman saja, karena memang belum fokus jualan. Pada tahun 2016, saya baru mulai aktif berjualan di media, yakni melalui instagram @meikeparyatika dan FB. Saya mulai fokus, karena anak sudah mulai besar dan bisa fokus berdagang. Modal yang dibutuhkan waktu itu sekitar 30-40 jutaan,” cerita Mieke mengenai usahanya.

Diakui oleh Meike, bahwa ia tertarik untuk menekuni usaha ini, karena ada kaitannya de­ngan latar belakang keluarga, yang sebagian besar bergelut di sektor usaha. Alasan dirinya memilih usaha fashion (scarf) adalah karena ia suka fashion. Untuk butik jahitnya, ia memiliki 7 orang pegawai. Saat ini resellernya pun ada sekitar 20 orang.

“Kalau untuk baju yang saya buat, biasanya terinspirasi dari baju Bangkok dan baju anak, modelnya lucu-lucu , hanya dibedakan di beberapa bagian saja,” ungkap Meike. Ciri khas dari produk buatan Meike ini adalah, pada desain printingnya yang cantik, selain kualitas bahan yang dinomor-satukan maupun jahitannya.

Minat pasar sangat baik
Minat pasar terhadap produk usahanya juga sangat baik. Dalam sebulan Meike minimal memproduksi scarf sekitar 300 pieces, sedang- kan baju untuk satu model diproduksi sekitar 100 pieces. Dalam sebulan, scarf produknya bisa terjual sekitar 900-1200 pieces, dengan harga antara Rp100.000 sampai Rp 350.000. Omset perbulan bisa mencapai kisaran Rp 90-100 juta.

”Keunggulan produk saya dalam kualitas bisa diadu dengan produk lain dari segi bahan dan jahitan. Saya menomersatukan kualitas agar customer yang beli tidak kapok, tapi kembali membeli . Alhamdulillah mereka ternyata kembali membeli,” tutur Mieke. Penganut moto hidup “Teruslah maju dan selalu bersyukur” ini mengatakan, persaingan pasar sangat ketat, tetapi namanya usaha dagang, dinikmati saja, karena rejeki tidak akan tertukar.

”Saya lebih banyak di rumah, standby di rumah untuk cek stock, ngga terlalu banyak gaul di luar, seperlunya saja. Saya jadi lebih memahami proses pembuatan barang, dan lebih menghargai orang-orang yang banyak membantu saya dalam proses produksi. Jika orderan sedang sepi, maka barang numpuk, tapi yang namanya rejeki sudah Allah yang mengatur, dan saya tidak terlalu cemas akan hal itu,” ungkapnya.

Meike mengaku, untuk mengecek online shop, beli bahan, maupun urus butik jahit, urus orderan dan packing, semuanya dikerjakan sendiri. “Agar produk saya tetap berdaya saing, saya tidak pernah menurunkan kualitas bahan, dan untuk harga pun hampir tidak pernah naik,” pungkas penyuka warna pastel itu kepada BB akhir pekan lalu. (E-018)***