Buah-buahan Lokal Jawa Barat Belum Mampu Mensubstitusi Buah Impor

73

BISNIS BANDUNG – Impor nasional buah-bahan dan turunannya, berdasar data terakhir (2014), nilainya mencapai 804 juta dolar/tahun, impor sayuran mencapai 769 juta dolar/tahun. ”Mengacu kepada data tersebut, sangat miris,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Hendi Jatnika. Padahal, lanjut Hendi , Indonesia, khususnya Jawa Barat untuk komoditas tersebut produksinya cukup signifikan . Saat ini Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat sedang menggenjot produksi sayuran dan buah-buahan, untuk menekan angka impor.

”Sayuran maupun buah-buahan produk impor , kualitasnya masih tanda tanya,” kata Hendi.
Dijelaskan Hendi, produksi sayuran dan buah-buahan asal Jawa Barat saat ini memberikan kontribusi positif untuk memenuhi kebutuhan nasional. Misalnya, untuk buah mangga yang berada pada peringkat satu, kemudian pada peringkat dua adalah pisang. Untuk sayuran, Jawa Barat merupakan pemasok terbesar cabai, jamur, dan kol. Bahkan, buah-buahan dan sayuran tersebut tidak hanya untuk kebutuhan Jawa Barat, juga untuk wilayah Jakarta dan provinsi lain.

Sentra produksi buah-buahan saat ini terkonsentrasi di wilayah Cirebon, Indramayu, dan Kuningan (Pantura). Tren produksi pertahunnya terus meningkat. Untuk komoditas pisang, tersebar di wilayah Jabar Selatan, sedangkan sayuran terkonsentrasi di wilayah Bandung Raya.

Diakui Hendi , buah lokal, saat ini belum mampu mensubstitusi buah impor, dan itu jadi bahan garapan kita untuk meningkatkan produk dan kualitasnya. ”Masyarakat semakin kritis memperhatikan kualitas sayuran dan buah buahan,” ungkap Hendi , Senin (11/9/17) kepada BB seraya menyebut mengenai konsumsi masyarakat terhadap produk lokal masih rendah, terutama terhadap buah-buahan . Hal tersebut, kemungkinan karena pengaruh dan persepsi masyarakat yang mengasumsikan buah-buahan lokal, kualitasnya di bawah produk impor.
Padahal, buah-buahan dan sayuran lokal unggul dari sisi kualitas maupun kuantitas dan kapasitas ”Produk impor kurang sehat, menggunakan bahan-bahan berbahaya, sedangkan buah lokal lebih segar dan variasi lebih banyak,” ujar Hendi.

Dikemukakan Hendi , untuk menggenjot produksi buah-buahan dan meminimalisasi kuota impor, beberapa upaya/target yang te­ngah diupayakan, salah satunya meningkatkan kualitas, memperbaiki produksi dan produktivitasnya. Selain itu, Pemprov Jawa Barat tengah melakukan sentralisasi daerah-daerah penghasil buah-buahan dan sayuran dari hulu sampai hilir. Mulai di tingkat hulu akan ditata mulai dari benih hingga pascapanen, pasalnya se­ringkali terjadi kondisi yang membuat miris hati, yakni pada saat puncak produksi (panen), harga hancur, hasil melimpah, petani merugi.

Budidaya holtikultura termasuk buah terus digenjot, karena tidak lepas kaitannya de­ngan daya beli masyarakat, konservasi lingkungan, sumber protein dan karbohidrat. Potensi holtikultura di Jawa Barat sangat besar. Kendalanya pada serangan hama dan bibit penyakit, untuk jenis tanaman pangan maupun buah-buahan. Untuk penanganannya pemanfaatan pestisida dan pembasmi hama yang aman dan ramah lingkungan. (E-018)***