Program Kewirausahaan Untuk Tekan Ekspor TKI

44

BISNIS BANDUNG — Pakar Bisnis dan Managemen Universitas Widyatama, Dr. Tezza Adriansyah Anwar, S.IP., MM mengemukakan, belakangan ini pemerintah pusat tengah gencar menyelenggarakan program-program kewirausahaan di segala sektor. Termasuk pemerintah daerah juga antusias untuk menyelenggarakan program kewirausahaan. Misalnya, Pemprov Jabar Barat
melalui program 1000 wirausaha baru.

Menurut Tezza, ada beberapa faktor yang mendorong pemerintah gencar menggulirkan program kewirausahaan, salah satunya faktor kurangnya jumlah wirausaha. ”Pemerintah sangat concern terhadap hal ini karena pentingnya peran wirausaha terhadap perkembangan perekonomian maupun terhadap lapangan pekerjaan .

Berbicara mengenai ideal, jika dilihat dari sisi jumlah, belum bisa dikatakan ideal, karena sampai saat ini baru mencapai 1,65% dari jumlah penduduk,” kata Tezza menjelaskan mengenai kurangnya jumlah wirausaha. Jumlah wirausaha yang dimiliki Indonesia tertinggal ketimbang tiga negara tetangga, seperti Singapura (7%) Malaysia (5%) Thailand (3%) dari total pendudukanya. Ketiganya mencatatkan angka 7 persen, 5 persen, dan 3 persen dari total jumlah penduduknya.

”Wirausaha di negara tetangga jauh lebih banyak. Selain itu, dari sisi kualitas juga lebih baik, karena difasilitasi dengan baik oleh negara,” ungkap Tezza , Selasa (12/9/17) di Bandung.
Tezza Adriansyah Anwar yang juga menjabat Dekan Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama Bandung mengemukakan, halangan utama tumbuhnya wirausaha di Indonesia adalah persepsi akan ”ketidakpastian” ketika menjadi wirausaha.

”Orang Indonesia, menurut saya, mencari kepastian dalam hidupnya, sehingga bisa hidup nyaman . Akan sulit ketika melangkah ke arah ketidakpastian. Selain itu , mungkin faktor budaya yang menghambat. Hingga tidak muncul kreativitas. Menurutnya, pemerintah telah memberikan kesempatan dan jembatan dengan dunia industri dan dunia perbankan. Menurut pengamatannya, dulu permasalahan UMKM adalah pemasarannya.

Sekarang permasalahannya adalah sumber daya manusia. Masyarakat lebih senang bekerja kantoran atau karyawan perusahaan swasta daripada sebagai pelaku UMKM karena ada kepastian (pendapatan). Menjadi seorang wirausaha berarti berada pada ”ketidakpastian”.
Selain itu, masih banyaknya persepsi yang melihat , menjadi pekerja kantoran yang mendapat gaji setiap bulan dan gaji pensiun masih dilihat lebih baik daripada profesi wirausaha yang sangat tergantung dengan kemampuan untuk menjual sebuah produk.

Kemampuan melihat peluang
Dikatakan lebih lanjut Tezza Adriansyah Anwar, kemampuan melihat peluang dan sumber daya untuk dapat menghasilkan produk berdaya saing menjadi hal utama yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Selain itu, faktor lainnya, seperti motivation, mindset dan make it happen.

Tezza berkeyakinan, wirausaha kita mampu bersaing dengan wirausaha asing. Untuk beberapa produk yang tidak memerlukan teknologi dan bersumber dari kekayaan alam, Indonesia bisa bersaing dengan wirausaha asing. Contohnya, produk alat-alat kesehatan, misalnya tensimeter. Produk tensimeter yang menguasai pangsa pasar global (¬+ 45% pangsa pasar global) merupakan produk Indonesia. Produk pesaingnya adalah buatan Jepang dan Jerman. Disamping produk Vietnam dan Malaysia, termasuk Tiongkok yang mampu menjual produk yang jauh lebih murah.

Program kewirausahaan, juga diharapkan mampu menekan jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Penyebab utama menjadi TKI karena kurangnya lapangan pekerjaan dan minimnya upah di tanah air. Data BNP2TKI menunjukan bahwa pe­nempatan TKI formal dan informal sepanjang tahun 2011 hingga 2015 menunjukan angka fluktuatif . Pada tahun 2015 jumlah TKI yang ditempatkan di luar negeri sebanyak 275.736 TKI.

Jumlah TKI 2015 menurun dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 429.872 TKI. Tahun 2011 sebanyak 586.802 , tahun 2012 sebanyak 494.609 , tahun 2013 sebanyak 512.168. Jumlah penempatan TKI terbesar ke Malaysia, Taiwan dan Arab Saudi. ”Jika melihat devisa yang masuk, tentunya devisa yang dihasilkan TKI sangat besar untuk perekomian Indonesia. Namun, hal ini juga bukan tanpa masalah. Program wirausaha juga menguntungkan bagi perekonomian Indonesia, karena dapat memberdayakan masyarakat lebih banyak, walau sejauh ini masih diperlukan upaya yang intensif,”tambah Tezza. (E-018)***