Tiga Bulan Kekeringan Tanaman Padi di Cijeler Jadi Makanan Ternak

43

BISNIS BANDUNG – Petani di Kabupaten Sumedang hanya bisa mengelus dada. Karena, sudah sejak tiga bulan lalu puluhan hektare sawah mereka di Desa Cijeler, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang dilanda kekeringan.

Dengan kondisi serupa itu pemilik lahan dan petani penggarap sawah hanya bisa pasrah melihat tanaman padinya hanya jadi makanan ternak . Seperti dikemukakan Yoyo , petani di Desa Cijeler, para petani sudah berupaya agar lahan garapannya teraliri air dengan menggunakan pompa penyedot air. Namun upaya ini tak berjalan optimal.

“Sejak bulan lima (Mei 2017) tidak ada air. Kami sudah berupaya dengan cara menyedot air dari sungai menggunakan pompa air. Tapi air yang biasanya me­­- ngalir deras dari saluran irigasi pun sudah kering hingga hasilnya tidak maksimal,” ujarnya kepada BB, Sabtu (9/09/17).

Akibatnya, kata Yoyo, sejumlah petani di Desa Cijeler merugi hingga jutaan rupiah. Karena hasil panen padi yang biasanya melimpah kini rusak dan gagal panen.
“Hasil tanaman padi yang biasanya melimpah, pada musim tanam kali ini tidak bisa kami nikmati karena kekeringan. Tanaman padi kami mati dan hanya jadi makanan kambing,” ucapnya.

Para petani di Desa Cijeler berharap, hujan bisa cepat turun. Agar ketersediaan air untuk lahan sawah bisa mencukupi untuk kembali menanam padi. “Kami berharap kemarau tidak berkepanjangan. Hujan segera turun sehingga kami bisa kembali bercocok tanam,” katanya.
Selain gagal panen yang dialami para petani Desa Cijeler Kabupaten Sumedang,warga di Desa Ambit Kecamaran Situraja mengalami hal yang sama.Bukan kekeringan areal persawahannya saja,tetapi hingga untuk kebutuhan aktivitas seperti mandi cuci dan lainnya terpaksa menggunakan air sungai yang bercampur lumpur.

Warga Desa Ambit harus menempuh jarak sekitar 2 kilometer melewati areal persawahan yang kering untuk mendapatkan air dari sungai. Dedi warga Desa Ambit mengatakan , sama seperti di daerah lainnya kondisi sungai mengering debit airnya turun,jangankan untuk mengairi areal persawahan untuk mandi dan cuci saja harus bergiliran.

“Setiap pagi dan sore kami ke sungai untuk mengambil air,meskipun lumyan jauh.Dan itupun harus berbagi dengan yang lain,paling banyak air yang bisa diambil sebanyak tiga jerigen . Air dari sungai kemudian disaring dan ditampung di tempat penampungan di rumah ,”ujar Dedi.
Dedi dan warga lainnya sangat berharap bantuan dan perhatian dari pemerintah untuk membantu pengadaan air bersih yang untuk dikonsumsi.

Selama ini warga menggunakan air dari sungai hanya untuk keperluan mandi cuci saja,bukan untuk dikonsumsi. “Kita berharap pemerintah daerah cepat tanggap untuk kondisi yang dialami warga . Soalnya air di sungai sangat tidak layak dikonsumsi dan hanya digunakan untuk mandi dan cuci saja,gimana mau dikonsumsi buat mandi saja kadang harus disaring dulu biar bersih,”jelasnya. (E010) ***