Seni Potong Tempel Pendulang Untung

44

SENI menggabungkan beberapa elemen dalam satu frame sehingga menciptakan makna baru atau yang sering disebut dengan kolase, masih banyak digunakan dan makin berkembang. Bentuknya pun tidak melulu menjadi lukisan dua dimensi tapi juga tiga dimensi, tergantung dengan elemen yang digunakan.

Kebanyakan, hasil karya kolase dibuat dari kumpulan barang bekas seperti majalah, foto lama, flayer, dan barang lainnya. Sekedar informasi, teknik kolase ini sudah ada sekitar 200 tahun sebelum masehi seiring dengan ditemukannya kertas.

Meski kepopulerannya sempat meredup, karya seni ini kembali bangkit dan banyak digunakan kembali oleh para seniman di jaman Perang Dunia II. Belakangan, karya ini seolah kembali bangkit, lihat saja tidak sedikit komunitas yang membuat acara dengan tema kolase dengan mendatangkan kolase artis.

Ristiyanto Cahyo Wibowo, seniman asal Yogyakarta ini mengaku sudah menekuni seni potong-tempel ini sejak masih duduk dibangku kuliah. Dia tertarik dengan bidang ini karena tantangannya mengubah makna material yang sudah jadi menjadi makna baru.

Sampai sekarang sudah ada ratusan karya seni yang dia hasilkan. Kebanyakan hasil karyanya masih dalam bentuk dua dimensi.

Meski terlihat mudah, kendala yang banyak dihadapi oleh seniman lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta ini adalah proses pengumpulan material. Untuk mendapatkan material yang kuno dan antik, dia banyak mengunjungi toko buku bekas. ” Bahkan saya juga sering mengais-ngais sampah, biasanya banyak bahan yang bagus disana,” katanya.

Proses pembuatannya pun bisa memakan waktu berbulan-bulan bila material yang diinginkannya belum dapat ditemukan. Belakangan, dia mulai menambahkan warna-warni cat untuk membuat hasil kolasenya terlihat berbeda.

Meski terbuat dari material bekas, laki-laki yang lebih akrab disapa Rist ini dapat mengantongi puluhan juta rupiah dari hasil penjualan satu lukisan kolase. Sayangnya, dia enggan menyebutkan total pendapatan yang diterimanya. Kebanyakan konsumennya adalah para penggemar lukisan dari luar negeri.

Selain itu, laki-laki berkacamata ini juga membuat buku tamu dengan teknik ini. Teman-temannya yang memesan buku tamu pernikahan dengan tema yang unik. Karya terbarunya adalah buku tamu dengan nuansa dapur. Para tamu dapat menuliskan pesan-pesannya diatas potongan kertas bergambar kendil.

Untuk menarik banyak peminat, dia menggunakan Instagram. Tak hanya memajang gambar, Rist juga memberi info terkait proses pembuatan kolase art yang unik. Jika ada yang tertarik, biasanya langsung menghubunginya via email.

Sekedar informasi, Rist sudah melang-melintang dalam sejumlah ajang pameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Kota-kota yang pernah dia singgahi adalah Jerman, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Hungaria. Bahkan baru-baru ini dia juga sempat menggelar pameran tunggalnya di Yogyakarta, Jakarta, dan Kamboja.

Pelaku lainnya adalah Rizki Amal. Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya ini telah mengenal seni kolase kertas sejak menduduki bangku sekolah menengah atas, saat mengikuti mata pelajaran keterampilan. Sempat ditawari membuat satu karya kolase kertas lagi oleh guru keseniannya, Rizki menolak lantaran tidak percaya diri.

Menjelang tahun 2016 karena kangen untuk membuat prakarya dengan tangan sendiri, Rizki kembali mencoba membuat kolase kertas. Awal tahun 2017, Rizki baru menyadari banyak temannya sesama mahasiswa memiliki pemasukan selain kiriman orang tua. Ia memilih kolase kertas sebagai pemasukan sampingannya.

“Karena hanya bisa bikin keterampilan saya coba kembali kolase. Waktu itu saya bikin untuk saudara saya dan responnya juga bagus, jadi mulai dari situ kolase ini ditekuni,” ungkap Rizki.

Rizki sendiri membanderol karya seninya dengan harga Rp 135.000 untuk ukuran A5 dan Rp 270.000 untuk kolase yang menggunakan bidang seluas A4. Namun harga dapat naik bila tingkat kerumitan dari pola yang akan dibentuk semakin tinggi. Usaha sampingan mahasiwa ini sudah meraup omzet Rp 500.000 setiap bulan.

“Awalnya saya membanderol Rp 75.000 untuk A5 dan Rp 150.000 untuk ukuran A4. Namun saudara saya yang juga pebisnis menyarankan untuk menaikan harga mengingat nilai seni dan tingkat kerumitan kolase,” tutur Rizki

Agar dapat selesai tepat waktu Rizki memberikan rentang waktu penyelesaian selama satu hingga dua minggu kepada konsumennya. Padahal menurut Rizki jika tingkat kerumitan sederhana, ia dapat menyelesaikan kolase berukuran A5 dalam kurun waktu tiga hingga empat hari tanpa mengerjakan aktivitas lainnya.

Rizki sendiri menargetkan konsumennya merupakan remaja dan mahasiswa sehingga pemasaran dilakukan melalui sosial media Instagram. Akunnya @ruang_kece. Walau terbilang baru pada Mei 2017, Rizki sudah mengirim hasil karyanya ke Medan. Selain itu dia juga sudah mampu melayani konsumen asal Jakarta, Tuban, dan Surabaya.

Rizki mengakui tidak terlalu sulit untuk membuat sebuah karya kolase kertas. Peralatan yang digunakan juga sederhana. Cukup menggunakan kertas, lem, gunting, hakpen atau lidi. Kolase dapat dibuat dengan memotong kertas atau dengan menyobek kertas. Kemudian di tempel pada media atau gambar yang sudah disiapkan.

Rizki menyadari pemasaran merupakan kendala baginya. “Masyarakat juga kurang tahu sebenarnya kolase itu apa. Kadang mereka menyamakan kolase dengan mozaik, sebab mozaik lebih dikenal,” kata Rizki.

Pemain kolase lainnya adalah Ika Vantiani. Dia mulai membuat kolase sejak tahun 2000. Awalnya metode kerajinan ini ia gunakan untuk zine yang akan diproduksi. “Mulai bikin sebagai karya seni itu di tahun 2008, dan buat toko online itu di tahun 2009,” ujar Ika.

Lewat sebuah marketplace khusus produk kerajinan tangan dan barang vintage asal negeri Paman Sam, Ika menjual hasil-hasil karya kolasenya. Kala itu, Ika melihat adanya feedback yang bagus dari pasar luar negeri. Ia jadi semakin termotivasi untuk terus mengembangkan karya kolasenya.

“Pembelinya berbagai kalangan, yang jelas mereka suka dengan artcraft dan vintage,” jelas Ika. Produk kolase original karya Ika kala itu dijual dengan harga US$ 10-US$ 50. Ia juga sempat melayani pembelian wholesale dari beberapa negara seperti Singapura dan New Zealand.

Disamping menjadi seller di marketplace asing tersebut, mulai tahun 2011 Ika mulai menjajaki pasar Indonesia. Ia mulai ikut bazaar, titip jual, dan berbagai kegiatan lain terkait kolase di Indonesia. Hingga akhirnya di tahun lalu, Ika memutuskan untuk fokus menyasar pasar lokal produk kolase.

Tahun 2016, Ika mendirikan toko daring pribadi di media sosial Instagram. Di toko ini Ika memasarkan kerajinan kolase yang telah diolah menjadi berbagai produk serta beragam koleksi barang-barang vintage. Beberapa contoh produk berdesain kolase yang dijualnya antara lain postcard, artframe, kaos, hingga case ponsel.

Produk-produk berdesain kolase di toko online milik Ika, kini ia jual dengan harga berkisar Rp 15.000-Rp 50.000. Selain itu, Ika juga menjual kolase ori dan menerima costume order. “Kalau yang di toko online itu yang bentuknya sudah jadi produk, kalau kolase ori yang handmade bisa langsung datang ke saya,” jelas Ika.

Harga kolase original hasil karya tangan Ika dihargai mulai Rp 250.000 hingga Rp 4 juta. Harga ini dibedakan oleh ukuran kolase yang ingin dibuat, serta kerumitan desain dan elemen dari kolase itu sendiri.

Selain kolase original, Ika juga membuat kolase digital. Produk kolase digital dapat berupa satu kolase original yang di-scan, maupun gabungan beberapa hasil scan kolase original yang didesain ulang. “Biasanya harga kolase original itu dua kali kolase digital,” ujar Ika.

Khusus produk custome order, Ika memasang harga mulai dari Rp 500.000. Produk ini dapat berupa kolase digital maupun original. Outputnya dapat berupa foto, logo, kartu nama, maupun dekorasi kantor.

Keahlian membuat kolase didapat Ika dengan berlajar secara otodidak. Ia mengambil ilmu dan inspirasi dari blog-blog luar negeri. Kini, ia sudah dikenal sebagai salah satu seniman kolase tanah air. Sejak 2010, Ika juga aktif mengadakan workshop kolase maupun membuat proyek, baik yang sifatnya komersial maupun non-komersil.

Sejauh ini, produk-produk Ika identik dengan elemen kolase berbentuk tetesan air. Desainnya berwarna warni dengan sentuhan vintage. Bahan bakunya terdiri dari sampah kemasan, perca kain, wallpaper bekas, maupun majalah dan koran. “Bahan bakunya lebih ke limbah dan saya berusaha untuk gak beli,” tutur Ika.

Menyoal tantangan, Ika bilang edukasi kepada publik masih menjadi catatan menarik. Masih banyak masyarakat yang belum aware dengan kolase, baik dari kalangan publik umum maupun publik komersial. “Kalau kita menggambar atau mematung, orang tau. Kalau kita membuat kolase, orang masih bertanya-tanya,” tutur Ika.

Selain itu, dalam menghasilkan produk kolase sendiri, menurut Ika juga dibutuhkan kesabaran. Meski terlihat sederhana, membuat karya kolase juga membutuhkan proses. Mulai dari mencari gambar, membuat desain, memotong bahan baku dan menempelnya, hingga terbentuk sebuah karya kolase yang apik. (C-003/bbs)***