Ekonomi yang Lari ke Luar Negeri

81

Oleh : Alit Suwirya

Perkembangan media cetak yang perlahan tergerus dan bertransformasi menjadi media online berbasis website dan aplikasi, tentu saja membuat kemudahan kepada masyarakat dalam mengkases informasi. Kebiasaan terdahulu masyarakat yang perlu menunggu pagi hari untuk mengkases berita melalui koran,  sekarang berubah dengan informasi real time melalui beragam media online. Harga yang diperlukan untuk mendapat informasi tersebut juga relatif lebih murah karena banyak media online berita (baik yang berijin maupun tidak berijin) menyajikan beritanya secara gratis. Namun dibalik segala kemudahan itu ada beberapa potensi ekonomi yang hilang dalam proses transformasi ini.

Media cetak memiliki proses produk yang dimulai dari pembuat berita (wartawan) ke Redaksi, Percetakan, dan Sirkulasi. Dalam proses tersebut terdapat beberapa pelaku ekonomi yang terlibat seperti dalam daftar berikut:

  1. Penyedia konten (jurnalis dan semua staff redaksi)
  2. Percetakan (kertas, tinta, chemical, plat, operator cetak dll)
  3. Pemasang iklan (Biro Iklan baik yang skala kecil maupun besar)
  4. Sirkulasi (loper koran, toko buku, dan pedagang asongan)

Secara pribadi saya mengenal beberapa pihak yang menikmati berjalannya ekonomi pada 4 daftar diatas. Sebagai contoh saya mengenal  seorang agen koran berinisial P di daerah selatan Bali dengan beberapa anak buah dan ratusan pelanggan. Dia secara konsisten setiap pagi selama puluhan tahun mengantarkan koran dari perusahaan koran terbesar di Bali ke pelanggan. Hasilnya tentu saja tidak mengecewakan, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga taraf perguruan tinggi dan memiliki beberapa rumah kost untuk menghidupinya di masa pensiun. Namun apa yang terjadi saat proses media berubah dari cetak menjadi online?

Bisnis Media Online memiliki proses penyampaian berita dari Redaksi, Server Website, dan Pembaca. Pelaku ekonomi yang terlibat dalam skema ini antara lain:

  1. Penyedia Konten
  2. Supplier IT (domain, hosting, staff IT, ISP dll)
  3. Pemasang Iklan (Biro iklan online)
  4. Sirkulasi (dalam kasus ini sosial media menjadi sirkulasi website)

Seperti kita lihat pada daftar diatas proses pergeseran cetak ke online menyebabkan banyaknya perubahan pelaku ekonomi. Tulisan ini saya fokuskan membahas tentang pemasang iklan yang menjadi sumber pendapatan utama sebuah media. Transformasi media cetak menjadi online  membuat biro iklan  harus menyesuaikan diri dengan kondisi pasar online. Mereka harus merubah variabel dari jumlah eksemplar, jumlah pelanggan, jalur distribusi dan posisi halaman iklan menjadi jumlah hits, demografi pembaca, waktu pembaca membuka website dan variabel baru lainnya.

Namun saya melihat biro iklan lokal tidak dapat banyak bergerak pada media online ini. Hal ini disebabkan sebuah perusahaan bernama Google yang sangat dominan melalui produk Google Adsense. Melalui skema bisnis yang bekerja sama dengan pemilik website dan kemampuan menganalisis demografi pembaca dengan akurat pada setiap website yang bekerja sama dengan google adsense, tentu saja pemasang iklan akan sangat dimanjakan oleh fasilitas ini. Pemasang iklan akan menentukan sejumlah rupiah budget iklan untuk dipasangkan ke website dengan demografi pembaca yang diinginkan. Kemudian Google akan memilih website yang bekerja sama dengan google dan cocok dengan demografi tersebut untuk dipasangkan iklan. Tentu saja sebagai “perantara” google akan mengambil sejumlah fee pada budget tersebut.