Industri Genteng Lagi ”Genting”

39

BISNIS BANDUNG- Kebijakan pemerintah dituding para pengusaha genteng tidak berpihak kepada industri mereka, menyebabkan penjualan genteng terus merosot. Pembangunan rusun tidak lagi menggunakan genteng, melainkan dicor menyebabkan industri genteng mengalami kegentingan yang serius, bahkan terancam gulung tikar.

Sejumlah pengusaha genteng Jatiwangi, Majalengka menya- takan keluahan dengan munculnya produk baru yang menggantikan fungsi genteng, perusahaan genteng menjadi tersisih. Keadaan itu sangat mempengaruhi omzet yang terus mengecil, kata para pemilik genteng di Jatiwangi. Industri kejayaan genteng Jatiwangi terjadi pada era 90-an hingga tahun 2000. Namun menyusut, dengan tumbuhnya produk lain untuk atap, seperti genteng spandex, asbes dan cor-coran. Industri genteng di Jatiwangi, pertama kali dipelopori oleh H. Umar Bin Ma`ruf untuk atap masjid di Dusun Cikarokrok, Majalengka pada 1905.

Menurut pengusaha genteng Jatiwangi Ila, kondisi para pengusaha sekarang tidak menguntungkan, karena banyak persaingan dan produk mereka mulai tersisihkan, dengan kondisi itu sebenarnya para pelaku usaha genteng ingin tutup, karena bahan baku yang terus naik harganya. Selain itu dipersulit oleh kebutuhan perajin dan kurangnya keberpihakan dari pemerintah, menjadi alasan ingin menu­­tup usahanya. Kalangan pengusaha genteng kecewa karena industri mereka menjadi terpinggirkan karena penggunaan atap rumah yang terus berubah, ungkap pengusaha genteng di Majalengka, pekan ini.

Pemilik genteng bernama Aji menga -takan, perajin butuh keberpihakan dari pemerintah. Misalnya, industri properti dapat menggunakan genteng, bukan dicor atau asbes. Keterpurukan industri genteng (jebor) saat ini juga dipengaruhi oleh “suplay and demand” yang tidak seimbang.  “Permintaan turun hingga 80 persen, padahal jebor terus memproduksi genteng sehingga stok kita numpuk,” tuturnya. “Jebor saat ini tinggal mempertahankan pabrik warisan dari orang tua dan buruh pabrik, satu jebor menghidupi 40 sampai 50 perajin,” katanya.

Menurut Ila, saat ini pabrik genteng di Jatiwangi Majalengka tersisa 150 jebor, padahal pada tahun 1992, jumlah pabrik genteng mencapai 630 jebor. Ini diakibatkan pasar yang lesu dan sebagian besar dari mereka akhirnya gulung tikar. Sementara itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, dalam kunjungannya ke Majalengka mengatakan pelaku industri harus melakukan inovasi baru, begitu juga para pelaku usaha genteng Jatiwangi yang mulai tersisih. “Pengusaha harus bisa inovasi, misalnya dengan memproduksi terakota seperti di Bali, karena produk tersebut bisa meningkatkan nilai tambah sebab bisa dipakai untuk menghias dinding atau lantai,” kata Emil.

Menurut dia, bahan dasar yang dipakai untuk genteng dan terakota sama, yakni dari tanah liat, tapi terakota bisa meningkatkan nilai tambah. Ia menga- takan jika pelaku usaha genteng mau berinovasi memproduksi terakota, maka dia dengan senang hati akan membantu me­ngirimkan tim untuk merebut kembali masa kejayaan genteng Jatiwangi.
“Saya akan bawa tim untuk mengajari para perajin genteng untuk memproduksi terakota ke sini, ide gagasan yang inovatif diharapkan dapat membawa kesejahteraan bagi para perajin,” ujarnya. (B-002)***