Teknologi PLTSa Gedebage, Diubah dengan Biodigester

39

BISNIS BANDUNG – Direktur Utama Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung, Drs. H Deni Nurdyana Hadimin, MSi,CFr.A mengatakan, saat ini membuang sampah dari Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) keTempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti diangkut oleh 160 truk dengan jumlah ritasi antara 200 -230 . Lokasi pembuangan sejauh 45 kilometer ditempuh dalam waktu 2,5 – 3 jam.

Kuantitas ritasi, dikemukakan Deni mengalami peningkatan rata-rata 13 %/bulan. Setiap kendaraan rata-rata dapat membuang sampah ke TPA 2-3 ritasi/hari dengan volume sampah yang dibuang ke TPA 1100 ton/hari. ”Jenis sampah yang banyak dibuang, sekitar 45% adalah sampah organik, antara 45-50%, terbanyak adalah sampah rumah tangga,”ujar Deni,Senin (18/9/) di Bandung. Diakui Deni , kendala dalam pengiriman sampah ke TPA saat ini adalah jumlah armada yang tidak memadai, selain umur kendaraan (truk) yang sudah tua, ditambah jarak tempuh yang cukup jauh . Untuk mengatasi kendala tersebut, PD Kebersihan terpaksa menggunakan kendaraan rental.

PD Kebersihan Kota Bandung, mendukung keberadaan TPA Legok Nangka. Di lokasi ini sampah diproses dengan cara lebih ramah lingkungan (sanitary landfill ). Di TPA Legok Nangka, sampah diolah terlebih dahulu dengan proses termal/waste to energy (PLTSa). Bagi Kota Bandung yang tidak memiliki lahan untuk dijadikan TPA, keberadaan TPA Legok Nangka akan sangat dirasa manfaatnya. Kota Bandung dapat membuang sampah ke TPA Legok Nangka dalam kapasitas yang besar.

Diolah dulu
”Di TPA Legok Nangka sampah diolah terlebih dahulu, sehingga sampah yang ditimbun pada sanitary landfill hanya sampah residu saja,”ujar Deni. Dari sisi ekonomis, kata Deni , TPA Legok Nangka lebih menguntungkan investasinya berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kota Bandung hanya berkewajiban untuk membayar jasa pelayanannya (Tipping Fee). Dari sisi ekologis, TPA Legok Nangka lebih ramah lingkungan dibandingkan de­ngan TPA Sarimukti, karena proses penimbunan sampahnya menggunakan proses sanitary landfill.

PLTSa yang direncanakan di Kota Bandung di wilayah Gedebage, sejauh masih mencuatkan pro – kontra dari berbagai pihak terkait sisi ekologisnya. Direncanakan PLTSa Gedebage akan diubah teknologinya dari proses pembakaran (insinerator) menjadi proses biologis (biodigester). Dikemukakan Deni, program jangka pendek untuk mengurangi sampah yang dibuang ke TPA dilakukan dengan memilah sampah dari sumber. Selain program Bank Sampah dan Sedekah Sampah dan program kebersihan lainnya.

Program-program tersebut diharapkan dapat mengurangi pengangkutan sampah ke TPA. Upaya jangka panjang PD Kebersihan untuk mengatasi permasalahan sampah terutama yang berkaitan dengan TPA , mendukung program nasional pemerintah yang menjadikan Kota Bandung menjadi kota Zero Waste 2020.

Salah satu program yang sudah direncanakan dan dalam tahap kajian yaitu membangun Recycling Centre di Kota Bandung. ”Apabila sudah dibangun recycling center, sampah anorganik dapat dipilah sesuai dengan jenisnya sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
Recycling center ini rencananya akan da­pat menampung sampah anorganik 10-20 ton/hari. ”Program ini belum mendapat persetujuan dari legislatif, karena masih dalam tahap kajian kelayakan,”pungkas Deni. (E-018)***