Triwulan III 2017, Daya Beli Masyarakat Melorot

65

BISNIS BANDUNG-Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah–Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Jawa Barat, H. Hendarta, SH., MM mengungkapkan, fenomena belanja online merupakan sebuah keniscayaan. Berdampak pada terjadinya  pergeseran pola berbelanja dan bertransaksi.

 Belanja online saat ini, menurut Hendarta , menjadi alternatif  shopping channel di negara kita. Walau lanjut Hendarta, masyarakat yang berbelanja online jumlahnyta masih kecil , dibawah 10%. “Produk yang ditawarkan melalui dunia maya online bentuknya virtual jadi sampai saat ini online shop di Indonesia belum berpengaruh secara signifikan terhadap penjualan di toko (offline),”ungkap Hendarta . Sedangkan barang yang dijual oleh riteler begitu beragam (sekitar 2.500 item).

 Bukan kebutuhan rumahtangga

Kelompok usia muda yang umumnya mempergunakan chanel online untuk  berbelanja produk fashion (pakaian dan barang-barang unik, bukan belanja kebutuhan sehari-hari yang umumnya jadi kebutuhan yang sudah berumahtangga , seperti sembako, beras, minyak goreng, gula pasir dan sebagainya. Namun demikian , ada peritel anggota Aprindo  tidak ingin kehilangan peluang , ikut berdagang secara online. Sekarang ini, kata Hendarta , kondisi perekonomian kita kurang menggembirakan, daya beli masyarakat terpengaruh dampak perlambatan ekonomi.       Beberapa riteler anggota Aprindo merasakan  penjualan dalam dua tahun terakhir ini tidak menggembirakan. Suatu ketika online shop akan menjadi pilihan berbelanja yang begitu praktis. Walau  masyarakat kita masih beranggapan berbelanja bisa sekaligus menjadi sarana rekreasi, refreshing keluarga, sehingga tempat belanja offline/konvensional masih menjadi pilihan dan tujuan.

Penjualan pasca bulan puasa dan lebaran, diakui Hendarta , mengalami penurunan, ditambah  dengan daya beli masyarakat yang menurun, telah menambah kelesuan penjualan pada triwulan III tahun 2017 ini . “Tapi kami masih menaruh harapan pada regulasi pemerintah dengan paket kebijakan ekonominya yang berdampak ke sektor riil, sehingga perekonomian Indonesia kembali bergairah tanpa kekhawatiran dengan berbagai berita mencekam,” kata Hendarta. (E-018)***