Gubernur : Masalah Perilaku Ada Industri Tidak Memfungsikan IPAL

31

BISNIS BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan, dirinya akan mendatangi satu-persatu industri yang berdekatan dengan aliran Sungai Citarum, guna memastikan Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL) dari setiap perusahaan berjalan dengan baik atau hanya Ipal-ipalan.

Hal itu diungkapkan Gubernur pada rapat evaluasi pelaksanaan gerakan Citarum Bestari, di ruang rapat Sanggabuana Gedung Sate Bandung, Jumat (15/09/2017). Rapat dihadiri Bupati Bandung Barat, Wakil Walikota Bandung, perwakilan Walikota Cimahi dan Kabupaten Bandung serta para pimpinan FKPD Jabar.

”Intinya lebih pada koordinasi dan evaluasi terkait dengan program Citarum Bestari dan pemantapan langkah-langkah ke depan yang akan dilakukan,” kata Gubernur kepada wartawan usai rapat. Gubernur menegaskan kembali, bahwa pihaknya akan mendatangi satu-persatu industri yang berdekatan dengan aliran Sungai Citarum, guna memastikan Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL) setiap perusahaan berfungsi dengan baik.

”Saya tekankan supaya para pihak, seperti Kejaksaaan, TNI dan Polri menentukan langkah-langkah, panggil satu-persatu industri atau didatangi. Bagi yang kedapatan melanggar, bikin komitmen untuk tidak melanggar,” ujarnya. Bila industri tersebut masih saja membandel dengan membuang limbah langsung ke sungai tanpa melalui IPAL akan membawa urusan tersebut ke ranah hukum.

Menurut pantauannya, di samping ada industri yang telah menggunakan IPAL dengan baik, ternyata masih ada IPAL tidak berfungsi, keberadaannya hanya untuk memenuhi persyaratan semata. ”Yang terjadi saat ini ada industri yang punya IPAL dan digunakan sebagaimana mestinya, namun ternyata ada juga industri yang punya IPAL tapi tidak digunakan alias IPAL-IPALan,” ungkap Gubernur. Saya menghimbau kepada semua pihak, seperti pelaku agribisnis, rumah tangga, pasar dan industri untuk tidak membuang limbah apapun ke Citarum.

”Selesailah masalah kalau itu terjadi. Orientasi kita adalah bagaimana menyelesaikan limbah, kalau para pihak bersepakat dan berkomitmen menyelesaikan masalah limbah, ya.. selesai urusan. Kita evaluasi kalau pergerakannya kurang cepat, cepetin dong kira-kira begitu,” ujar Gubernur. Berdasar catatan, jumlah industri di kawasan Sungai Citarum sepanjang hampir 30 km, mulai dari mata air di Gunung Wayang hingga bermuara di Tanjung Karawang berjumlah 608 industri.

Dari jumlah tersebut terbanyak adalah industri tekstil, 468 buah. DAS Citarum hulu di Kabupaten Bandung menjadi daerah terbanyak keberadaan industri ,yakni 325 buah, Kota Cimahi 101 buah dan 90 industri di Kota Bandung. Dalam rapat evaluasi tersebut terungkap , sejak digulirkannya gerakan Citarum Bestari tahun 2014, kini sampah di aliran sungai Citarum berkurang signifikan. Hampir sepanjang 70 km sampah sudah tidak lagi berada di aliran sungai Citarum.

”Sekarang sudah sampai di angka 70 km , sampah kasat mata bukan sampah cair sudah sangat berkurang signifikan, tapi mesti dihitung juga di kiri kanannya DAS Citarum ada 13 anak sungai, itu juga menjadi bagian dari program,” ucap Gubernur yang dirilis Humas Pemprov Jabar. Dikemukakan, direncanakan jumlah desa berbudaya lingkungan atau Ecovillage di areal DAS Citarum akan diperbanyak.

Ecovillage adalah kelompok warga masyarakat perdesaan yang sudah sadar lingkungan, mereka dilatih dan dididik untuk menjaga lingkungan, khususnya kebersihan Sungai Citarum.
Tugas mereka melakukan kerja bakti membersihkan sungai dari sampah dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah apapun ke Sungai Citarum.
”Jadi sebetulnya sederhana , hanya masalah perilaku saja,” pungkas Aher. (B-003)***