Melanggengkan Kesementaraan

38

ENTAH keberapa kali gesekan antara pengemudi ojeg pangkalan dengan ojeg daring, antara sopir taksi dengan sopuir angkot, antara sopir taksi plus angkot dengan pengemudi taksi online. Saling serang itu terjadi bukan hanya di kota besar tetapi juga di bebetapa kota kecil. Di Bandung, baik di kota maupun di kabupaten, amat sering terjadi gesekan sepertki itu.

Ada beberapa jalan atau kawasan yang dipasangi spanduk berukuran cukup besar, ”Ojeg Daring Dilarang Masuk Wilayah Kami!” Sikap eksklusivisme itu muncul karena persaingan yang timpang. Para pengemudi ojeg pangkalan (OP) merasa  seolah-olah sumber pendapatan mereka terganggu. Para penumpang banyak yang memilih ojeg online/ daring atau ojeg nonpangkalan (ONP). Begitu pula pengusaha taksi dan angkot merasa tersaingi dengan makin banyaknya taksi online/daring (uber/grab).

Gesekan antar-kelompok transportasi kota itu akjan terus terjadi sepanjang pemerintah seolah-olah berdiam diri. Gesekan itu bukan semata-mata karena faltor ekonomi yakni persaingan usaha, tetapi juga faktor hukum. Peraturan atau perundang-undangan yang ada tidak bersifat antisipatif. Peraturan dibuat hanya untuk mengatur keadaan sesaat. Transportasi merupakan kebutuhan masyarakat yang akan terus berkembang sesuai dengan perkebangan waktu. Petrkembangan itu juga didorong dengan makin majunya teknologi, infrastruktur, dan SDM, serta masyarakat pengguna transportasi.

Ketika muncul moda angkutan baru berupa sepeda motor yang kemudian kita kenal dengan sebutan ojeg, kita semua baru sadar, kita tidak punya aturan apalagi undang-undang tentang itu. Undang-undang tentang transportasi, sama sekali tidak menyentuh moda angkutan rakyat itu. Tidak ada aturan rute, jenis sepeda motor yang laik ojeg, jenis SIM pengemudinya, tarif bawah dan tarif atas, identitas (tanda wilayah operasi), system perpajakan, dan sebagainya. Segalanya dibiarkan berjalan apa adanya. Ketika mumcul moda angkutan sejenis yang ”lebih teratur” dan menjadi pilihan masyarakat karean lebih praktis, murah, dan SDM pemotornya lebih rapi, terjadiolah kegaduhan.